Kemarahan semakin memuncak setelah insiden pada Minggu lalu, di mana pendekatan represif aparat yakni dengan kekerasan. Penggunaan gas air mata dan peluru karet menyasar massa aksi yang sebenarnya bertujuan damai.
“Penggunaan gas air mata berlebihan dan tembakan peluru karet mengenai massa aksi pendukung PSIS Semarang. Pendekatan kekerasaan berulang kali dilakukan oleh institusi bobrok ini pada warga. Mari organisir diri untuk menjegal yoyok sukawi dan melawan balik kekerasan aparat,” imbuhnya.
Suporter PSIS Semarang berharap demo ini menjadi momen penting dalam memperbaiki hubungan antara manajemen, suporter, dan pihak keamanan.
Harapan mereka ialah manajemen klub lebih terbuka dan aparat lebih humanis dalam menyikapi aspirasi masyarakat. (*)





