SEMARANG, beritajateng.tv – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, menyoroti masih maraknya alih fungsi lahan di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Khususnya perubahan dari tanaman keras menjadi tanaman semusim, yang ternilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis.
Hal tersebut Widi sampaikan saat mengisi Forum Diskusi ISKA Jawa Tengah bertema “Bencana Ekologis, Tanggung Jawab Hukum, dan Pertobatan Ekologis: Mencari Jalan Pemulihan Lingkungan Hidup” di Rumah Uskup, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 28 Januari 2026.
“Beberapa tahun yang lalu dan kemarin juga masih sempat terjadi. Ini perlu menjadi perhatian. Ada alih fungsi dari tanaman keras menjadi tanaman semusim. Kalau dukungan dari semua pihak bisa terealisasi untuk rehabilitasi hutan, maka dengan curah hujan yang ekstrem pun dampaknya bisa dikurangi, apabila daya dukung lahannya makin baik,” kata Widi.
Menurutnya, perubahan tutupan lahan tersebut berdampak langsung pada menurunnya daya dukung lingkungan. Dalam kondisi curah hujan ekstrem, lahan yang tidak memiliki vegetasi permanen lebih rentan terhadap erosi dan longsor.
BACA JUGA: DLHK Ungkap Sampah Jateng Capai 6 Juta Ton Per Tahun, Mayoritas Belum Terkelola Optimal
Widi menekankan pentingnya penerapan pola agroforestri sebagai solusi agar kepentingan ekonomi masyarakat dan fungsi ekologis dapat berjalan beriringan.
“Perlu ada sinergi supaya pola agroforestry ini bisa diterapkan betul. Ada tanaman keras, di bawahnya tanaman semusim, sehingga kalau hujan ekstrem tidak terlalu banyak erosinya,” jelasnya.
Selain di wilayah daratan, Widi juga menyoroti persoalan abrasi pesisir yang masih menjadi tantangan serius di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Demak.
“Di wilayah pesisir, abrasi juga perlu menjadi perhatian. Kalau kita lihat di Demak, mangrovenya kalah. Karena air laut naik, mangrovenya kalah, mati,” ungkapnya.
DLHK Dorong Giant Sea Wall Berbasis Hybrid untuk Atasi Abrasi
Untuk mengatasi abrasi tersebut, DLHK Jawa Tengah mendorong pemanfaatan pendekatan teknologi berbasis ekosistem, salah satunya melalui konsep giant sea wall hybrid.
“Ada model giant sea wall hybrid, menggunakan struktur beton yang bisa menangkap sedimen, lalu di situ mangrove bisa tumbuh. Ini salah satu upaya yang bisa dilakukan,” katanya.
Widi menegaskan, rangkaian persoalan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya bencana hidrometeorologis yang terjadi di Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini berkaitan dengan bencana hidrometeorologis akibat perubahan iklim yang baru saja kita alami di Jawa Tengah, di Purbalingga, di Tegal, dan di Pemalang. Ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
DLHK Jateng Ungkap Lahan Kritis Jateng Turun 70 Ribu Hektare dalam Tiga Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Widi memaparkan capaian pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan di Jawa Tengah, khususnya terkait luasan lahan kritis.
“Lahan kritis di Jawa Tengah tahun 2024 itu mencapai 317.629 hektare. Kalau dibandingkan dengan tahun 2021, saat itu lahan kritis mencapai 392.153 hektare,” jelasnya.
Dengan demikian, dalam kurun waktu tiga tahun terjadi penurunan lahan kritis sekitar 70 ribu hektare. Ia menilai penurunan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya rehabilitasi dan penanaman yang dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak.
“Artinya sudah terjadi penurunan luasan lahan kritis dari tahun 2021 ke 2024 sekitar 70 ribu hektare. Upaya rehabilitasi dan penanaman yang teman-teman mahasiswa, masyarakat, perguruan tinggi, lakukan ini sudah membuahkan hasil,” ujarnya.
Widi juga menyinggung kegiatan penanaman yang dilakukan di kawasan Gunung Slamet bersama berbagai elemen, mulai dari komunitas, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan.
“Di Gunung Slamet juga sudah terlaksana penanaman oleh komunitas bersama kami DLHK, dinas kehutanan, kabupaten, termasuk TNI dan Polri. Ini bentuk kolaborasi yang sangat baik,” katanya.
BACA JUGA: Sampah Perkotaan Overload, DLHK Jawa Tengah Bakal Bangun TPA Regional di Gandusari Magelang
Menurutnya, antusiasme relawan dan pemerhati lingkungan di Jawa Tengah saat ini semakin meningkat dan sangat membantu kerja pemerintah dalam pemulihan lingkungan.
“Kami melihat antusias para relawan dan pemerhati lingkungan sangat baik. Kami sangat terbantu dengan upaya-upaya yang telah kawan-kawan lakukan,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





