Ia menekankan, fokus utama bukan hanya pada pemadaman, tetapi pencegahan agar kerugian material maupun korban jiwa dapat di tekan.
“Harapan kami justru tidak ada kebakaran. Dengan pencegahan yang baik, risiko kerugian bisa ditekan bahkan dihilangkan,” tegasnya.
Dalam upaya percepatan penanganan, Damkar juga mengandalkan peran relawan pemadam kebakaran atau Redkar yang telah terbentuk di ratusan kelurahan.
“Redkar sangat membantu kami di lapangan. Mereka biasanya lebih dulu tiba untuk mengamankan lokasi dan memberi akses bagi petugas,” katanya.
Data Damkar menunjukkan tren kebakaran di Semarang cenderung menurun dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023 tercatat lebih dari 450 kejadian, turun menjadi sekitar 360 kasus pada 2024, dan 288 kasus pada 2025. Hingga Maret 2026, jumlah kebakaran tercatat sekitar 55 kejadian.
Meski demikian, ancaman tetap ada seiring prediksi kemarau panjang tahun ini. Karena itu, Damkar juga mulai mendata dan mengevaluasi kondisi hidran sebagai sumber air utama saat pemadaman.
“Hidran sangat penting untuk mempercepat suplai air. Semakin dekat sumber air, semakin cepat api bisa kita kendalikan,” jelas Ade.
Ia menambahkan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk memastikan hidran yang ada dapat berfungsi optimal, terutama di kawasan padat penduduk dan industri. (*)
Editor: Elly Amaliyah




