Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) juga memberikan berbagai pelatihan agar pelaku usaha tidak hanya mampu memproduksi barang, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produknya.
“Kami juga memproses dan melakukan pelatihan melalui fintech, mulai dari hulu hingga menghasilkan produk hilir. Produk hilir ini harus menjadi produk yang langsung masyarakat terima,” ujarnya.
Ia berharap proses tersebut dapat meningkatkan nilai ekonomi produk UMKM sehingga mampu menutup kenaikan biaya produksi yang terjadi di lapangan.
“Itulah yang nantinya akan menaikkan nilai tambah atau value dari produk UMKM tersebut,” tambahnya.
Bram Minta UMKM Sukses jadi “Bapak Asuh” bagi Pelaku Usaha Lain
Di tengah tren pelemahan daya beli masyarakat, Bram mengakui tidak semua UMKM mampu tumbuh positif.
Oleh sebabnya, Bram mendorong pelaku usaha yang telah berkembang untuk membantu UMKM lain di sekitarnya melalui pola kemitraan atau bapak asuh.
“Terkait daya beli, kami terus mendorong dan menyosialisasikan kepada teman-teman UMKM yang sudah berhasil agar mau menjadi bapak asuh atau plasma bagi UMKM yang kurang berhasil. Karena harus kita akui, tidak semua UMKM saat ini tumbuh positif,” terang Bram.
Ia mencontohkan, ada salah satu industri fesyen di Kota Salatiga yang saat ini memiliki omzet cukup besar. Menurutnya, pelaku usaha seperti itu perlu ikut memberdayakan UMKM lain di sekitarnya.
“Contohnya seperti industri fesyen di Salatiga yang omzetnya luar biasa. Di sekitarnya kan ada teman-teman UMKM yang kurang produktif,” ujarnya.
Bram berharap, pelaku usaha yang telah berkembang dapat membantu membuka peluang produksi sekaligus berbagi pengalaman usaha kepada UMKM yang masih kesulitan berkembang.
“Maka saya minta pengusaha fesyen tersebut untuk mengangkat minimal 10 UMKM di sekitarnya guna mendukung produksi mereka. Berikan mereka peluang dan berikan mereka materi,” imbuh Bram.





