SEMARANG, beritajateng.tv – Meski hakikatnya bukan sebagai mainan, kehadiran gadget kini menjadi sahabat bagi banyak anak, tidak terkecuali anak-anak di bawah umur. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat membuat kecanduan pada anak.
Tentunya, gadget akan berdampak positif jika si anak menggunakannya secara tepat. Sebab, alih-alih membuat kecanduan pada anak, penggunaan gadget sebetulnya dapat memberikan pembelajaran dan hiburan bagi anak itu sendiri.
Sayangnya, tidak sedikit yang menggunakan gadget secara berlebihan hingga menimbulkan kecanduan pada anak. Anak yang mengalami kecanduan gadget pun kerap kali menunjukkan perilaku agresif seperti memberontak jika orang tuanya tidak memberikan apa yang mereka mau.
Psikolog Klinis Diyah Puspitaningrum mengungkapkan bahwa anak-anak yang tidak dapat lepas dari gadget termasuk ke dalam adiksi. Meskipun begitu, adiksi yang kerap kali anak-anak alami tidak hanya soal gadget semata. Kecanduan berlebih terhadap jajanan dan hal lainnya juga termasuk ke dalam adiksi.
“Gadget itu mungkin jadi salah satu bagian yang banyak dipergunakan (yang menimbulkan adiksi). Kalau kita ngomongin dulu waktu sepuluh atau dua puluh tahun lalu, addictional-nya juga banyak, misalnya addict terhadap jajanan, addict terhadap belanja. Jadi perlu diingat addict atau kecanduan itu sebenarnya tidak hanya soal gadget saja,” ungkapnya saat awak beritajateng.tv mendatangi Klinik Psikologi Taman Bintang, Semarang, Sabtu (16/4/2023).
Ia pun menambahkan, anak-anak yang terbiasa dengan penerimaan akan lebih mudah mengontrol pribadinya, termasuk dalam menggunakan gadget itu sendiri.
“Kalau anak-anak terlatih menerima kekecewaan, menunda keinginan, dan adaptif dengan keadaan, dari hal-hal yang sederhana contohnya. Misalnya kita sampaikan kepada anak, kamu suka ayam goreng, kamu boleh suka ayam goreng tapi bukan berarti kamu boleh makan ayam goreng langsung lima potong, makan satu dulu baru kemudian habiskan yang lain. Melalui hal itu, anak akan menunda keinginannya,” terangnya.
Menyoal Gadget dalam Hal Kecanduan pada Anak, Menyenangkan Tapi Tidak Sesuai Porsi
Dalam perspektif psikologi, kecanduan gadget sama halnya dengan segala sesuatu yang menyenangkan namun tidak sesuai porsinya. Hal ini berkaitan dengan hormon dopamine yang otak produksi ketika manusia merasakan sesuatu yang berlebih.
“Menyenangkan itu kan menghasilkan hormon yang namanya dopamine. Hormon dopamine ketika over itu akan nge-block otak depan sebagai decision maker tadi. Jadi, otak depannya tidak berfungsi. Itu berarti, seseorang yang senang berlebihan, marah berlebihan, ataupun sedih berlebihan bisa melumpuhkan akal sehatnya untuk melakukan perilaku yang tidak tepat,” jelasnya.
Anak-anak yang kebanjiran hormon dopamine membuat mereka tidak mengetahui batasan terhadap kontrol pribadinya. Tentunya, hal ini akan memberikan pengaruh buruk pada mereka.
“Dia main game game kekerasan, tembak-tembakan itu kan tidak logis ya kalau kita pikir. Tembak kena darah lalu bangun lagi, begitu seterusnya. Dia akan melihat bahwa agresif (dalam hal ini menyerang) itu adalah hal yang normal, karena dia sering melihat itu,” ungkapnya.
Kecanduan pada anak tidak serta merta muncul, melainkan berawal dari sikap anak yang tidak dapat mengontrol hal-hal kecil sejak dini. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua mengajarkan anak untuk menerima dan terlatih menghadapi kekecewaan. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





