JAKARTA, beritajateng.tv – Mengatur keuangan dengan investasi merupakan salah satu hal yang masyarakat lakukan untuk “menjaga” masa depannya.
Namun, investasi keuangan tidak selalu mudah, terutama bagi mereka yang masih awam. Lantas, bagaimana cara mengatur investasi keuangan yang baik?
Financial Trainer Ligwina Hananto hadir dalam podcast Raditya Dika. Ia mengulas perbedaan sudut pandang antara portfolio management dan financial planning. Pembahasan tersebut membuka wawasan tentang cara masyarakat memetakan tujuan keuangan.
Ligwina menjelaskan latar belakang pendidikannya pada bidang investment management. Ia mempelajari konsep portfolio management sejak kuliah. Dalam teori tersebut, jangka panjang sering dimaknai lebih dari lima tahun. Namun, ia menegaskan pendekatan itu berbeda dalam praktik perencanaan keuangan pribadi.
Menurutnya, financial planning memakai kerangka waktu lebih panjang. Ia menyebut rencana hidup manusia biasanya melampaui sepuluh tahun.
Karena itu, definisi waktu dalam perencanaan keuangan perlu penyesuaian. Jangka Waktu Investasi pun terbagi lebih rinci.
Ia memaparkan bahwa periode kurang dari lima tahun masuk kategori jangka pendek. Rentang lima sampai sepuluh tahun tergolong jangka menengah. Sementara itu, periode lebih dari sepuluh tahun masuk kategori jangka panjang. Penjelasan tersebut membantu masyarakat memahami risiko produk keuangan.
“Karena gini jangka waktu di dalam, aku kan kuliah investment management ya jadi belajar nih portofolio management. Dulu dikasih tahunya jangka panjang itu 5 tahun ke atas,” katanya, seperti beritajateng.tv kutip dari podcast Raditya Dika, Jumat 13 Februari 2026.
BACA JUGA: Di Tengah Persaingan KEK, Investasi Kota Semarang 2025 Tetap Tembus Rp11,1 Triliun
Contoh konkret muncul saat orang tua menyiapkan dana kuliah anak. Kebutuhan lima tahun mendatang sudah masuk kategori menengah. Jika kebutuhan tinggal dua tahun lagi, maka statusnya berubah menjadi jangka pendek. Pergeseran waktu tersebut memengaruhi strategi penempatan dana.
Ligwina menyoroti penggunaan emas dalam rencana keuangan. Ia menilai emas kurang cocok untuk kebutuhan sangat dekat. Fluktuasi harga emas bisa mencapai sepuluh persen dalam waktu singkat. Kondisi itu berpotensi memicu kepanikan jika dana segera terpakai.
“Jadi justru emas itu sebaiknya tidak dilakukan untuk jangka terlalu pendek. Karena kalau dia turun dalam 2 minggu, 10 persen, lu mau apa?” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan finansial menentukan reaksi seseorang terhadap risiko. Seseorang akan lebih tenang jika dana hanya sebagai cadangan. Sebaliknya, kecemasan meningkat ketika dana memiliki tenggat jelas. Oleh sebab itu, jangka waktu investasi harus selaras dengan produk yang dipilih.
Raditya Dika turut menanyakan skenario perubahan rencana. Ia menggambarkan kondisi saat target awal lima tahun berubah menjadi tiga tahun. Dalam situasi tersebut, instrumen emas masih menyimpan risiko besar. Ligwina menyarankan evaluasi segera terhadap portofolio.
Pentingnya Menyesuaikan Jangka Waktu Investasi
Ligwina menekankan revisi rencana keuangan perlu dilakukan berkala. Waktu yang terus berjalan otomatis menggeser profil risiko. Instrumen yang dulu relevan bisa menjadi kurang tepat. Karena itu, investor harus aktif meninjau strategi.
Ia memberi contoh ketika nilai emas sudah naik signifikan. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum realisasi keuntungan. Risiko penurunan harga tetap ada meski tren sempat positif. Sisa waktu tiga tahun membuat ruang pemulihan semakin sempit.
BACA JUGA: Bank Jateng Perkuat Literasi Keuangan Pelajar dengan Sosialisasi Tabungan SimPel
Pandangan tersebut menegaskan pentingnya disiplin dalam financial planning. Perencanaan bukan dokumen statis tanpa perubahan. Setiap perkembangan hidup menuntut penyesuaian strategi. Dengan memahami jangka waktu Investasi, masyarakat dapat mengelola risiko lebih bijak. (*)





