JatengPendidikan

Batik Patron Ambarawa Bangkit Lagi, Arsip Belanda Ungkap Kejayaan yang Hampir Hilang

×

Batik Patron Ambarawa Bangkit Lagi, Arsip Belanda Ungkap Kejayaan yang Hampir Hilang

Sebarkan artikel ini
siswa smpn 5 ambarawa mengenal batik
Sejumlah siswa SMPN 5 Ambarawa mengenal batik patron Ambarawa secara langsung. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv — Kejayaan batik patron Ambarawa kembali menyeruak ke permukaan lewat Pameran Batik Patron Ambarawa yang digelar di Pendopo Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu 29 November 2025.

Pameran ini mengungkap sejarah bahwa Ambarawa pada abad ke-18 pernah menjadi pusat produksi batik patron yang disegani.

Pada masa jayanya tahun 1867, Ambarawa memiliki delapan produsen dan delapan toko batik patron. Bahkan Ambarawa pernah tercatat sebagai produsen batik terbesar ketiga di Indonesia setelah Solo dan Yogyakarta.

Desideria, perwakilan Pegiat sekaligus Komunitas Batik Patron Ambarawa 1867, menjelaskan bahwa bukti kejayaan batik patron Ambarawa tersimpan rapi di museum di Leiden, Belanda.

“Dulu sebelum ada batik Pekalongan dan Lasem, batik terbesar ketiga itu Ambarawa. Namun pendudukan Jepang menjadi titik runtuhnya batik patron Ambarawa karena situasi keamanan kacau,” ungkap Deri.

Upaya Menghidupkan Kembali Batik Patron

Setelah terkubur puluhan tahun, Komunitas Batik Patron Ambarawa 1867 kini berkomitmen menghidupkan kembali warisan budaya tersebut. Mereka mengenalkan batik patron melalui pendidikan di sekolah-sekolah dan lewat berbagai kegiatan pameran.

Deri menyebut, pameran kali ini terlaksana berkat dukungan Universitas Sebelas Maret (UNS). “Semua saling bahu-membahu agar batik patron Ambarawa dikenal kembali,” ujarnya.

BACA JUGA: Cara Seniman Custom Art Ambarawa Ekspresikan Kebanggan pada Batik, Karya Tembus Internasional

Ketua Lembaga Kegiatan Pengembangan Program Inovasi Seni UNS, Vigo Rahman Fuad menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang fokus pada pelatihan pewarna alam dan proses produksi batik.

“Batik patron Ambarawa ini seperti harta karun. Banyak orang belum tahu, bahkan warga Ambarawa sendiri. Kami ingin membantu mengenalkannya lagi,” jelas Vigo.

Ia menegaskan bahwa batik patron Ambarawa memiliki catatan sejarah kuat dan layak menjadi identitas daerah. “Daerah yang tidak punya tradisi batik saja ingin punya batik. Apalagi Ambarawa yang punya sejarah jelas,” tegasnya.

Media Edukasi untuk Pelajar

Pameran ini juga dimanfaatkan sekolah-sekolah di Kecamatan Ambarawa sebagai sarana edukasi. Siti Nur Fauziah, guru SMPN 5 Ambarawa, mengajak 33 siswanya untuk mengenal batik patron Ambarawa secara langsung.

“Saya ingin anak-anak tahu bahwa Ambarawa punya batik khas. Selama ini mereka belum kenal,” ujarnya.

BACA JUGA: Fort Willem I Jadi Ikon Wisata Baru, Tokoh Masyarakat Ambarawa

Para siswa terlihat antusias karena selain melihat koleksi batik patron, mereka juga dapat mencoba langsung proses pembuatannya.

“Dengan mengenal lebih dulu, harapannya mereka mencintai batik patron Ambarawa yang dulu pernah berjaya,” tambah Fauziah. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp