“Kami berharap mahasiswa terbiasa menghadirkan karya dengan kualitas teknis yang proper, baik dari sisi visual maupun narasi,” tuturnya.
Produksi film ini memakan waktu hingga tiga tahun, meliputi riset sejarah, survei lokasi di Kudus, Jepara, dan sekitarnya, hingga proses shooting dan editing. Uniknya, film ini diproduksi secara mandiri tanpa sponsor eksternal, sehingga kebebasan artistik tim kreatif dapat terjaga.
Melalui Uttarani: Sang Ratu dari Utara, FBS SCU berharap dapat menghidupkan kembali spirit budaya lokal. Selain itu, pihak kampus bisa memberi ruang aktualisasi bagi mahasiswa untuk berkarya dalam medium film digital. (*)
Editor: Andi Naga Wulan.





