Jateng

Bediding Landa Gunung Merbabu, Pendaki Diminta Waspadai Gejala Awal Hipotermia

×

Bediding Landa Gunung Merbabu, Pendaki Diminta Waspadai Gejala Awal Hipotermia

Sebarkan artikel ini
Gunung Merbabu
Pemandangan pagi Gunung Merbabu. (ist)

SEMARANG, beritajateng.tv – Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau para pendaki meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko hipotermia selama fenomena bediding atau udara dingin ekstrem yang terjadi pada puncak musim kemarau.

Imbauan tersebut sebagai langkah mitigasi agar aktivitas pendakian di Gunung Merbabu tetap aman di tengah penurunan suhu yang cukup signifikan.

Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, menjelaskan fenomena bediding merupakan siklus alam yang normal terjadi saat Indonesia memasuki puncak musim kemarau. Penjelasan itu mengacu pada informasi resmi dari BMKG.

Menurutnya, ada tiga faktor utama yang memicu fenomena tersebut. Salah satunya adalah menguatnya angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari Benua Australia.

“Karena belahan bumi bagian selatan saat ini sedang berada dalam periode musim dingin,” ujar Anggit, Rabu 15 Juli 2026.

BACA JUGA: Habitat Surili Jawa di Gunung Merbabu Kian Sehat, Populasi Tetap Terjaga Pascakebakaran

Selain itu, minimnya tutupan awan pada musim kemarau membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara turun drastis, terutama menjelang matahari terbit.

Sebagai gunung dengan ketinggian mencapai 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl), Merbabu mengalami penurunan suhu yang lebih ekstrem daripada wilayah dataran rendah.

Karena itu, BTNGMb mengingatkan setiap pendaki untuk mengenali gejala awal hipotermia agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Anggit menjelaskan, suhu udara yang sangat rendah, terpaan angin, serta pakaian yang basah atau lembap dapat meningkatkan risiko hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius.

Gejala awal hipotermia antara lain tubuh menggigil terus-menerus, bibir, kuku, dan ujung jari mulai memucat atau membiru, konsentrasi menurun, serta kesulitan berpikir jernih.

Pendaki juga dapat mengalami kesulitan berbicara, tubuh terasa lemas, hingga muncul rasa kantuk yang berat.

“Apabila gejala tersebut muncul, jangan memaksakan melanjutkan perjalanan,” tegasnya.

BTNGMb menyarankan pendaki segera mencari tempat yang terlindung dari angin, mengganti pakaian basah dengan pakaian kering, lalu menghangatkan tubuh secara bertahap. Jika memungkinkan, pendaki juga pihaknya anjurkan mengonsumsi minuman hangat.

Apabila kondisi tidak kunjung membaik, pihaknya meminta pendaki segera melapor kepada petugas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

BACA JUGA: 5 Fakta Menarik Gunung Merbabu Jawa Tengah, Salah Satunya Cocok untuk Anak Muda

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pendaki, BTNGMb telah menyediakan Shelter Emergency di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting.

Shelter tersebut berfungsi sebagai lokasi penanganan awal dan pertolongan pertama bagi pendaki yang mengalami kondisi darurat sebelum evakuasi.

Fasilitas itu telah terlengkapi listrik tenaga surya, penerangan, CCTV, jaringan Wi-Fi, hingga instalasi penangkal petir untuk mendukung proses penanganan darurat di kawasan Gunung Merbabu. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp