SEMARANG, beritajateng.tv – Kondisi ekosistem hutan di Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu terus menunjukkan pemulihan setelah terlanda kebakaran hutan beberapa tahun terakhir.
Seiring membaiknya habitat, populasi Surili Jawa (Presbytis fredericae), primata endemik Pulau Jawa yang dilindungi, tetap terjaga dan berkembang di kawasan konservasi tersebut.
Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso, mengatakan hasil pemantauan pada 2026 mencatat sedikitnya 37 individu Surili Jawa yang tersebar di sejumlah habitat penting di kawasan Gunung Merbabu.
“Ini menjadi kabar menggembirakan. Karena menunjukkan ekosistem hutan Gunung Merbabu masih mampu menopang kehidupan satwa liar endemik. Termasuk Surili Jawa dan Lutung Budeng,” ujar Anggit, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurutnya, keberadaan Surili Jawa menjadi indikator penting kesehatan ekosistem hutan pegunungan. Satwa tersebut hanya dapat bertahan apabila kondisi habitatnya tetap terjaga dengan baik.
“Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” katanya.
BACA JUGA: Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Besok 9 Juni 2026: Mayoritas Wilayah Berawan, Kota Semarang Terpanas
Surili Jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang populasinya semakin terbatas akibat tekanan terhadap habitat alaminya. Spesies ini sangat bergantung pada hutan pegunungan yang masih lestari.
Di kawasan Resor Selo, yang menjadi salah satu habitat utama Surili Jawa, petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN Gunung Merbabu mencatat keberadaan 16 individu pada area pengamatan seluas 96 hektare. Kelompok terbesar yang terpantau terdiri atas 13 individu.
Selain individu dewasa, petugas juga menemukan remaja dan anakan Surili Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan proses reproduksi masih berlangsung secara alami dan populasi satwa di lindungi itu memiliki peluang berkembang secara berkelanjutan.
Balai TN Gunung Merbabu juga mencatat pulihnya vegetasi kemlandingan gunung (Albizia lophanta) yang sebelumnya terdampak kebakaran hutan pada 2019 dan 2023. Kini vegetasi tersebut kembali tumbuh dan mendominasi sejumlah area habitat primata.
Kemlandingan gunung menjadi sumber pakan utama Surili Jawa sekaligus Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) manfaatkan sebagai tempat berlindung dan beraktivitas.
“Pemulihan vegetasi pascakebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan sekaligus mendukung kelangsungan hidup satwa liar,” jelas Anggit.
Ia menambahkan, di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pegunungan akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia, keberadaan Surili Jawa menjadi pengingat penting bahwa perlindungan habitat harus terus diperkuat.
BACA JUGA: Kuota Pendakian Merbabu via Thekelan Sudah Penuh Hingga Malam Tahun Baru
Balai TN Gunung Merbabu berkomitmen melanjutkan upaya konservasi melalui pemantauan populasi, perlindungan habitat, dan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.
“Keberadaan Surili Jawa di Gunung Merbabu menjadi simbol bahwa alam yang terjaga dengan baik akan tetap mampu menopang kehidupan bagi generasi sekarang maupun mendatang,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





