SEMARANG, beritajateng.tv – Kabar mengejutkan datang dari dunia politik, tepatnya dari sosok inspiratif Rahayu Saraswati.
Keponakan Prabowo Subianto yang juga menjabat sebagai anggota DPR RI ini, pada Rabu 10 September 2025, mengunggah sebuah video mengejutkan di akun Instagram pribadinya.
Dalam unggahan itu, ia menyatakan secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya.
BACA JUGA: Kemal Palevi Akui Kapok Jadi Sutradara Film, Ungkap Alasan Hingga Cerita Perjalanan Kariernya
Keputusan tersebut sontak menimbulkan kehebohan, terutama di kalangan warganet yang belakangan masih ramai membicarakan isu pergantian kabinet Merah Putih.
Berikut ini kisah kehidupannya dalam dunia politik hingga menjadi anggota DPR RI.
Perjalanan Rahayu Saraswati di Dunia Politik
Tahun 2013, Rahayu Saraswati bergabung dengan Partai Gerindra dan segera mendapat kepercayaan untuk maju sebagai calon anggota DPR RI.
Ia mencalonkan diri melalui daerah pemilihan Jawa Tengah IV yang meliputi Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri.
Berbekal dukungan kuat, Rahayu berhasil terpilih dan meraih kursi DPR pada Pemilu 2014.
Di parlemen, ia menjadi bagian dari Komisi VIII yang membawahi urusan Agama, Sosial, serta Pemberdayaan Perempuan.
Komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dan memerangi praktik perdagangan manusia membuatnya dihormati di dunia politik.
Sejak kecil, Rahayu Saraswati telah menorehkan prestasi cemerlang di bidang akademik.
Ia mengawali pendidikannya di SD Tarakanita II, kemudian melanjutkan ke United World College of South East Asia. Pendidikan menengahnya ditempuh di Swiss, tepatnya di College du Leman.
Usai menyelesaikan SMA, Rahayu mengikuti minatnya di bidang drama dengan berkuliah di University of Virginia, Amerika Serikat.
BACA JUGA: ANUKOM 2025: Ajang Penghargaan Komedi Bergengsi, Hadirkan Pretty Asmara hingga Teamlo!
Selain memperdalam kajian peradaban kuno, ia juga menempuh pendidikan di International School of Screen Acting, London, guna mendukung perjalanan aktingnya.
Latar pendidikan formal tersebut menjadi modal berharga, bukan hanya dalam seni.
Tetapi juga dalam memahami isu-isu sosial yang kemudian ia gunakan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan serta anak melalui jalur politik. (*)





