“Dari karakter warna, kita bisa lihat konten materialnya. Kalau warnanya biru, merah, atau oranye, itu punya makna berbeda,” jelasnya.
Lebih jauh, perbedaan lain yang mencolok terletak pada lintasan dan sifat materialnya. Syaiful menuturkan, lintasan meteor biasanya melengkung tajam akibat interaksi dengan atmosfer, sementara sampah antariksa cenderung menyebar dan stabil karena bentuknya berupa logam atau komponen buatan manusia.
“Kalau material bekas satelit rata-rata logam. Itu juga memengaruhi warna pancaran cahayanya, cenderung tetap. Sementara meteor dari bebatuan luar angkasa punya karakter berbeda,” papar Syaiful.
Karena itu, batu hitam pekat yang warga Jatilaba temukan masih perlu pengujian secara ilmiah. Pemeriksaan laboratorium akan membantu memastikan apakah benda tersebut benar meteor atau justru logam sisa satelit yang terbakar saat memasuki atmosfer.
“Prinsipnya, dugaan kuat itu meteor. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan 100 persen tanpa penelitian lanjutan,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





