Ia mengklaim angka tersebut merupakan titik terlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang sejarah Indonesia.
“Per saat ini, 5 Juni 2026, kurs nilai tukar rupiah telah melemah di angka kurang lebih Rp18.030. Ini menunjukkan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar paling lemah sepanjang sejarah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Kevin, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya angka pelemahan rupiah, tetapi bagaimana pemerintah menyikapi kondisi tersebut melalui kebijakan ekonomi dan fiskal yang ternilai tepat.
Kritik Program Pemerintah dan Defisit APBN
Selain menyoroti kurs rupiah, mahasiswa juga mengkritik sejumlah program pemerintah yang disebut sebagai program mercusuar.
Dalam orasinya, Kevin menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya masih menyisakan persoalan dalam pengelolaan dan implementasi.
“Saat ini yang kami sorot bukan masalah MBG-nya bagaimana, tapi pengelolaannya dan juga egosentris yang terlahirkan dari MBG ini,” katanya.
Ia menilai Indonesia sebagai negara berkembang masih sangat bergantung pada produk impor sehingga pelemahan rupiah berpotensi semakin membebani perekonomian nasional.
“APBN kita sampai hari ini masih menunjukkan angka defisit. Untuk negara yang masih mengandalkan produk impor, keadaan rupiah melemah hari ini akan semakin mencederai dan melemahkan ekonomi kita,” ujarnya.
BACA JUGA: Rupiah Tembus Rp17.704 per Dolar AS, Pasar Soroti Potensi Kenaikan Suku Bunga BI
Melalui aksi di depan BI Jawa Tengah tersebut, mahasiswa berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat nilai tukar rupiah, memperbaiki tata kelola program ekonomi nasional, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. (*)
Editor: Farah Nazila




