SEMARANG, beritajateng.tv – Buntut melemahnya rupiah hingga mencapai Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), mahasiswa bakar uang mainan di depan gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah pada Jumat, 5 Juni 2026 petang.
Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi nasional yang ternilai semakin memburuk, terutama akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang (Polines), Kevin Kurnia Priambodo, menegaskan bahwa pembakaran uang mainan bukan dimaksudkan sebagai penghinaan terhadap simbol negara maupun gambar pahlawan yang terdapat pada uang rupiah.
“Kami memutuskan menggunakan uang mainan. Uang mainan yang kami bakar ini menunjukkan sebuah bentuk peringatan kepada pemerintah. Bahwasanya saat ini rupiah sudah mencapai tahap tidak memiliki nilai apa pun,” ujar Kevin dalam kepada awak media.
Menurutnya, aksi tersebut merupakan ilustrasi kondisi rupiah yang saat ini sedang mengalami tekanan berat.
Ia mengibaratkan rupiah seperti seorang pasien yang berada dalam kondisi kritis di rumah sakit dan membutuhkan dukungan agar dapat kembali pulih.
“Rupiah sedang sekarat dan kami adalah orang yang sayang pada rupiah. Kami hadir di sini sebagai bentuk rasa kasih sayang kami, rasa kepedulian dan juga dukungan kami. Tolonglah supaya rupiah ini segera menguat,” katanya.
BACA JUGA: Dolar Naik Dratis, Berikut Penyebab Pelemahan Nilai Rupiah dan Dampaknya
Kevin mengatakan aksi yang mahasiswa lakukan murni lahir dari keresahan terhadap kondisi ekonomi yang masyarakat rasakan.
Meski jumlah peserta aksi tidak terlalu besar, ia menegaskan hal tersebut tidak mengurangi substansi tuntutan yang disampaikan kepada pemerintah.
“Kami hadir di sini karena resah. Saya tidak diberi oleh siapa pun, tidak disuruh oleh siapa pun. Saya hadir sebagai mahasiswa dan rakyat Indonesia yang melihat kondisi masyarakat saat ini,” tegasnya.
Dalam orasinya, Kevin menyebut pelemahan kurs rupiah yang telah berada di kisaran Rp18.030 per dolar AS menjadi salah satu alasan utama aksi tersebut berlangsung.
Ia mengklaim angka tersebut merupakan titik terlemah nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang sejarah Indonesia.
“Per saat ini, 5 Juni 2026, kurs nilai tukar rupiah telah melemah di angka kurang lebih Rp18.030. Ini menunjukkan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar paling lemah sepanjang sejarah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Kevin, yang perlu menjadi perhatian bukan hanya angka pelemahan rupiah, tetapi bagaimana pemerintah menyikapi kondisi tersebut melalui kebijakan ekonomi dan fiskal yang ternilai tepat.
Kritik Program Pemerintah dan Defisit APBN
Selain menyoroti kurs rupiah, mahasiswa juga mengkritik sejumlah program pemerintah yang disebut sebagai program mercusuar.
Dalam orasinya, Kevin menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya masih menyisakan persoalan dalam pengelolaan dan implementasi.
“Saat ini yang kami sorot bukan masalah MBG-nya bagaimana, tapi pengelolaannya dan juga egosentris yang terlahirkan dari MBG ini,” katanya.
Ia menilai Indonesia sebagai negara berkembang masih sangat bergantung pada produk impor sehingga pelemahan rupiah berpotensi semakin membebani perekonomian nasional.
“APBN kita sampai hari ini masih menunjukkan angka defisit. Untuk negara yang masih mengandalkan produk impor, keadaan rupiah melemah hari ini akan semakin mencederai dan melemahkan ekonomi kita,” ujarnya.
BACA JUGA: Rupiah Tembus Rp17.704 per Dolar AS, Pasar Soroti Potensi Kenaikan Suku Bunga BI
Melalui aksi di depan BI Jawa Tengah tersebut, mahasiswa berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat nilai tukar rupiah, memperbaiki tata kelola program ekonomi nasional, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. (*)
Editor: Farah Nazila




