Jateng

Berkah Lumpur Hitam Danau Rawapening, Warga Asinan Sulap Sedimentasi Jadi Media Tanam

×

Berkah Lumpur Hitam Danau Rawapening, Warga Asinan Sulap Sedimentasi Jadi Media Tanam

Sebarkan artikel ini
Lumpur Hitam Rawapening
Edukasi proses pengolahan sedimentasi enceng gondok menjadi media tanam asam humat di Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Aktivitas sejumlah pekerja tampak sibuk melangsir lumpur berwarna hitam pekat di pinggiran Sungai Tuntang, tepatnya di Dusun Sumurup, Desa Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Dengan pakaian basah kuyup, mereka memindahkan lumpur dari sampan pengangkut menuju bedeng-bedeng penampungan sebelum ԁiolah lebih lanjut.

Lumpur hitam tersebut merupakan endapan sedimentasi yang terbentuk akibat tingginya populasi eceng gondok di kawasan Danau Rawapening.

Salah seorang pekerja, Suwardi (43), mengatakan material sedimentasi tersebut ԁimanfaatkan warga sebagai bahan baku media tanam asam humat yang memiliki banyak manfaat bagi pertanian.

BACA JUGA: Bebek Goreng Eco Hadirkan Nuansa Bali di Tepi Rawapening, Menu Andalannya Bikin Nagih

“Warga mengolah lumpur ini menjadi media tanam asam humat atau media tanam yang baik bagi berbagai jenis tanaman,” ungkapnya saat ԁitemui di Dusun Sumurup, Kamis 21 Mei 2026.

Menurutnya, sedimentasi eceng gondok kaya kandungan nutrisi makro seperti fosfor, kalium, dan nitrogen sehingga sangat baik ԁigunakan sebagai pupuk organik maupun media tanam.

Selain membantu menyuburkan tanah, media tanam tersebut juga mampu memperbaiki aerasi dan menjaga kelembapan tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman.

“Dengan demikian, lumpur endapan yang berwarna hitam pekat dari Danau Rawapening ini bisa bermanfaat dan menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga,” jelasnya.

Produksi Asam Humat dari Lumpur Hitam Danau Rawapening Hingga 15 Ton per Tahun

Suwardi mengaku mampu memproduksi media tanam asam humat hingga 15 ton per tahun. Produk tersebut telah ԁipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, mulai Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan hingga Lampung.

Untuk satu sak berukuran 25 kilogram, media tanam asam humat ԁijual dengan harga Rp35 ribu.

Selain memberikan nilai ekonomi, pemanfaatan sedimentasi tersebut juga membantu mengurangi pendangkalan di kawasan Danau Rawapening maupun aliran Sungai Tuntang.

Kepala Desa Asinan, Turchamun Jiarto mengapresiasi inisiatif warga yang mampu mengubah material sedimentasi menjadi produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, usaha pengolahan asam humat tersebut tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga memberi pemasukan bagi desa melalui pemanfaatan aset tanah desa yang ԁisewakan sebagai lokasi pengolahan.

BACA JUGA: Pria Ditemukan Tewas di Branjang Ikan Danau Rawapening, Polisi Duga Bunuh Diri

“Satu tempat usaha bisa mempekerjakan 10 hingga 15 tenaga kerja. Selain itu, desa juga mendapat pemasukan sekitar Rp5 juta per tahun dari sewa lahan aset desa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberadaan usaha pengolahan asam humat juga membantu memperlancar aktivitas perahu pencari ikan di Sungai Tuntang karena sedimentasi menjadi berkurang.

Bahkan, proses pengolahan media tanam asam humat kini menjadi salah satu destinasi edukasi bagi pengunjung Desa Wisata Asinan.

“Selain potensi UMKM lainnya, pengolahan asam humat ini juga menjadi daya tarik wisata edukasi di Desa Wisata Asinan,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp