“Pengembangan pertanian berkelanjutan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan petani agar inovasi yang dihasilkan benar-benar bisa diimplementasikan di lapangan,” kata Kus.
Peluncuran buku pedoman secara resmi oleh Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung. Ia berharap buku ini dapat menjadi panduan bersama dalam mengembangkan model bisnis pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan.
“Buku pedoman ini kami harapkan tidak hanya menjadi referensi. Tetapi juga mendorong aksi nyata di lapangan melalui sinergi seluruh pihak dalam mengimplementasikan pertanian berkelanjutan,” ujar Kurniawan.
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan talkshow yang menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia, Kementerian Pertanian, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Undip.
Diskusi CSA Biochar Jawa Tengah
Diskusi tersebut membahas rencana tindak lanjut penguatan proyek percontohan CSA Biochar di Jawa Tengah.
Para narasumber sepakat bahwa teknologi pertanian adaptif dan rendah emisi menjadi kunci. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim tanpa mengorbankan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Kegiatan ini di ikuti oleh sekitar 125 peserta secara luring dan 50 peserta secara daring yang berasal dari unsur. Baik dari kementerian dan lembaga, akademisi, perbankan, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani.
Kolaborasi pengembangan model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis CSA Biochar sendiri telah mulai sejak 2025 melalui proyek percontohan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Hasil implementasi menunjukkan peningkatan produktivitas tanaman padi sebesar 6,3 persen. Serta perbaikan kualitas tanah dan efisiensi penggunaan input pertanian.
Ke depan, buku pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan nasional dalam mereplikasi dan memperluas penerapan CSA Biochar di berbagai daerah.
Langkah tersebut harapannya mampu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung transisi menuju sistem pertanian yang lebih hijau dan berkelanjutan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





