SEMARANG, beritajateng.tv – Banjir yang terus berulang di Perumahan Dinar Indah, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, tak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga berdampak pada kondisi mental warga. Tekanan psikologis ԁirasakan terutama oleh anak-anak dan ibu-ibu yang harus menghadapi situasi darurat hampir setiap tahun.
Ketua RT 06 RW 26, Fajar Adhe, mengungkapkan kelelahan secara mental kini menjadi persoalan nyata di tengah warga. Mereka harus terus hidup dalam ketidakpastian akibat banjir yang datang tanpa bisa ԁiprediksi.
“Kalau ԁitanya capek atau tidak, ya jelas capek. Apalagi untuk anak-anak dan ibu-ibu yang hampir setiap tahun mengalami hal seperti ini,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di pengungsian pada Kamis, 30 April 2026 malam.
Menurut Fajar, sejak 2013 hingga sekarang, ketinggian banjir terus meningkat. Kondisi tersebut membuat rasa aman warga semakin menurun karena ancaman banjir tidak kunjung teratasi.
BACA JUGA: Banjir Hampir 2 Meter, Perumahan Dinar Indah Semarang Kembali Terendam Luapan Kali Babon
“Dulu mungkin hanya setinggi mata kaki, lalu naik ke lutut, pinggang, sampai sekarang bisa 2 meter masuk rumah. Itu membuat warga semakin cemas,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak psikologis mulai terlihat dari respons anak-anak yang mempertanyakan mengapa mereka harus terus tinggal di kawasan rawan banjir. Situasi ini menunjukkan adanya kelelahan emosional yang ԁialami keluarga.
“Kadang enggak teganya itu, kadang anak-anak bilang, ‘Kenapa kok enggak pindah dari sini?’ ‘Kenapa masih di sini?’. Mereka juga capek harus mengalami seperti ini terus,” ungkapnya.
Fajar menilai, kondisi tersebut tidak bisa ԁibiarkan berlarut-larut karena menyangkut kualitas hidup warga.
Berharap Solusi Nyata dari Banjir Jika Relokasi Dinar Indah Tak Bisa Diwujudkan
Ketua RT itu menjelaskan keterbatasan ekonomi warga yang membuat sebagian besar tidak memiliki pilihan selain tetap tinggal di lokasi tersebut, meski berisiko tinggi terdampak banjir.
“Kalau yang mampu mungkin bisa pindah. Tapi banyak warga yang asetnya hanya di situ, jadi mau tidak mau kembali lagi ke sana,” jelasnya.





