Ia menjelaskan, kenaikan harga terjadi pada hampir semua barang, dengan selisih yang cukup terasa di tingkat pedagang. “Misalnya kulakan Rp30 ribu jadi Rp35 ribu, atau dari Rp40 ribu naik lagi. Itu per barang,” ungkapnya.
Rustiningsih pun mengaku sementara waktu menahan pembelian stok karena keterbatasan modal dan tingginya harga. “Sementara belum kulakan lagi, karena modelnya terbatas. Kita juga sambil mantau harga,” ujarnya.
BACA JUGA: Lonjakan Harga Plastik Imbas Perang, Pemprov Jateng Minta Warga Gencarkan Zero Plastic
Terkait penyebab kenaikan, ia menduga faktor global seperti konflik internasional turut memengaruhi harga bahan baku plastik. “Mungkin karena perang itu ya, yang sering diberitakan,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga ini juga berdampak pada daya beli masyarakat. Pedagang harus menjelaskan kepada pembeli terkait lonjakan harga yang terjadi.
“Kalau ada yang tanya, saya bilang sekarang harganya sudah tidak seperti dulu, naik sekitar 10 persen. Jadi mau tidak mau harus menyesuaikan,” jelasnya.
Baik Agung maupun Rustiningsih berharap pemerintah dapat menstabilkan harga bahan baku plastik, mengingat produk tersebut banyak digunakan oleh pelaku usaha kecil dan masyarakat menengah ke bawah.
“Harapannya harga bisa stabil lagi, karena plastik ini dipakai pedagang kecil juga,” kata Agung. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





