SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa masa pancaroba tengah berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau ini diperkirakan terjadi mulai Maret hingga Mei 2026.
Pada masa pancaroba, cuaca cenderung berubah-ubah dan sulit terprediksi. Hujan masih kerap turun secara tiba-tiba, meski secara umum Indonesia mulai memasuki fase peralihan menuju musim kemarau.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan datang secara bertahap mulai April hingga Juni di sebagian besar wilayah. Awal kemarau perkiraannya mulai terasa pada April di beberapa daerah, lalu meluas pada Mei dan Juni.
BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Seluruh Wilayah Jateng Hingga 28 Maret 2026: Kategori Waspada
Perubahan musim ini tertandai dengan pergeseran arah angin serta peningkatan suhu udara. Kondisi tersebut memicu terbentuknya awan hujan secara cepat, yang menyebabkan hujan turun secara mendadak, terutama pada siang hingga sore hari.
Selama pancaroba, kondisi atmosfer juga menjadi lebih labil. Perbedaan suhu antara siang dan malam hari terasa lebih signifikan, yang menjadi salah satu ciri khas periode ini.
BMKG mengingatkan bahwa potensi hujan masih cukup tinggi, bahkan bisa beserta kilat, petir, dan angin kencang dalam durasi singkat.
Pada periode 14 hingga 20 April 2026, hujan masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah meski angin monsun Australia mulai menguat.
BMKG meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
Sementara itu, puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Juli hingga September, dengan intensitas tertinggi pada Agustus di sebagian besar wilayah Indonesia.
Namun, waktu puncak kemarau dapat berbeda di tiap daerah, tergantung kondisi geografis dan dinamika iklim setempat.





