JAKARTA, beritajateng.tv – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih cepat dari rata-rata klimatologis. Sifat musim tahun ini juga cenderung lebih kering pada sejumlah daerah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pergeseran musim terjadi setelah fase La Nina lemah berakhir pada Februari lalu. Saat ini, kondisi iklim global berada pada fase netral. Namun peluang kemunculan El Nino kategori lemah hingga moderat terbuka pada semester kedua 2026.
Ia menyampaikan pemantauan anomali iklim di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka minus 0,28 atau netral. Meski demikian, peluang kemunculan El Nino mencapai 50 hingga 60 persen mulai pertengahan tahun. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian berbagai sektor.
Menurut BMKG, transisi angin menjadi penanda utama perubahan musim. Pergeseran dari Monsun Asia atau angin baratan menuju Monsun Australia atau angin timuran menandai awal kemarau. Perubahan pola angin tersebut memengaruhi distribusi curah hujan nasional.
BACA JUGA: Waspada Hujan Lebat, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Rabu 25 Februari 2026
Data BMKG mencatat pada April 2026 sebanyak 114 Zona Musim atau 16,3 persen wilayah mulai memasuki kemarau. Wilayah tersebut mencakup pesisir utara Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pergeseran ini menunjukkan kemarau datang lebih awal pada beberapa kawasan strategis pertanian.
Selanjutnya, pada Mei 2026 sebanyak 184 Zona Musim atau 26,3 persen wilayah menyusul masuk periode kering. Distribusi tersebut meluas secara bertahap. Kemudian pada Juni 2026, sebanyak 163 Zona Musim atau 23,3 persen wilayah turut mengalami awal kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan sekitar 325 Zona Musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemarau lebih maju dari normal. Wilayah terdampak meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian, sumber daya air, dan kebencanaan.





