Jateng

Bocah 12 Tahun di Demak Gantung Diri, Sempat Bagikan Chat dengan Orangtuanya

×

Bocah 12 Tahun di Demak Gantung Diri, Sempat Bagikan Chat dengan Orangtuanya

Sebarkan artikel ini
Video AI | Ilustrasi prostitusi anak. (um-surabaya.ac.id)
Ilustrasi siluet perempuan. (Foto: um-surabaya.ac.id)

DEMAK, beritajateng.tv – Tragedi gantung diri mengejutkan warga Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Kamis sore. Seorang anak perempuan berusia 12 tahun meninggal dalam kondisi tergantung di rumahnya.

Peristiwa memilukan tersebut langsung memicu perhatian masyarakat sekitar. Warga setempat pun berbondong-bondong mencari informasi terkait kejadian itu. Aparat kepolisian segera mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal.

Kasat Reskrim Polres Demak, Anggah Mardwi Pitriyono, menjelaskan kronologi temuan tersebut. Ia menyebut ibu korban menemukan anaknya dalam posisi tergantung saat pulang ke rumah.

Petugas tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. Hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan bunuh diri. Meski demikian, penyidik terus mendalami motif yang melatarbelakangi tindakan tersebut.

BACA JUGA: Viral anak SD NTT Bunuh Diri Akibat Tidak Mampu Beli Buku, Begini Potret Kehidupannya

Beberapa hari sebelum kejadian, korban sempat mengunggah tangkapan layar percakapan dengan orang tuanya. Percakapan itu diduga berasal dari pesan WhatsApp pribadi. Dalam unggahan tersebut, korban menulis kalimat bernada emosional.

Isi pesan menunjukkan tekanan batin yang cukup berat. Unggahan tersebut kemudian tersebar luas dan memicu keprihatinan publik.

Selain itu, pihak kepolisian mengumpulkan keterangan dari keluarga dan tetangga sekitar. Proses penyelidikan berjalan untuk memastikan faktor penyebab pasti.

Aparat juga memeriksa riwayat aktivitas korban di media sosial. Langkah itu bertujuan mengungkap kemungkinan tekanan psikologis yang korban alami.

Sorotan Kesehatan Mental Anak

Fenomena tragedi gantung diri pada anak menambah daftar panjang kasus serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bunuh diri anak meningkat signifikan.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat tren memprihatinkan sejak 2023. Laporan tersebut menyebut angka kasus termasuk tinggi di Asia Tenggara. Faktor pemicu sering berkaitan dengan tekanan sosial dan aktivitas daring.

Tidak hanya itu, hubungan keluarga juga berperan penting dalam kondisi psikologis anak. Tekanan akademik dan perundungan turut memperparah situasi. Banyak anak kesulitan mencari ruang aman untuk bercerita. Akibatnya, mereka memendam beban emosional tanpa pendampingan tepat.

BACA JUGA: Kasus Bunuh Diri Remaja Melonjak, Pemerhati Psikologi: Batasi Media Sosial dan Perbaiki Komunikasi Keluarga

Sementara itu, data UNICEF menunjukkan gangguan mental remaja meningkat setiap tahun. Namun, jumlah anak yang menerima bantuan profesional masih rendah.

Keterbatasan layanan psikologi anak menjadi tantangan besar. Kondisi tersebut juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp