Jateng

BPBD Catat 16 Kejadian Longsor di Awal 2026, Warga Semarang Diminta Waspada

×

BPBD Catat 16 Kejadian Longsor di Awal 2026, Warga Semarang Diminta Waspada

Sebarkan artikel ini
BPBD Catat 16 Kejadian Longsor di Awal 2026, Warga Semarang Diminta Waspada
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Awal tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi Kota Semarang. Jika sebelumnya banjir kerap mendominasi, kini tanah longsor justru muncul sebagai bencana paling sering terjadi di awal tahun 2026.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Semarang mencatat, hingga pertengahan Januari ini sudah terjadi 16 kejadian longsor di berbagai wilayah Kota Semarang.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, menyebut peningkatan kejadian longsor menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Menurutnya, kondisi geografis Semarang yang dominan memiliki wilayah perbukitan membuat risiko longsor semakin tinggi saat curah hujan meningkat.

“Di awal tahun 2026 ini, bencana yang paling mendominasi justru tanah longsor. Sampai hari ini sudah tercatat 16 kejadian longsor,” ujar Endro, Minggu, 18 Januari 2026.

Salah satu kejadian terbaru terjadi di Jalan Kuda, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. Talud yang berada di kawasan tersebut longsor dan mengenai jalan warga. Menariknya, kawasan Jalan Kuda sebelumnya lebih di kenal sebagai daerah langganan banjir.

“Dulu wilayah ini seringnya banjir, sekarang justru longsor. Ini menunjukkan adanya perubahan pola bencana yang harus kita waspadai,” jelasnya.

Endro menambahkan, kejadian longsor yang muncul selama Januari ini sebenarnya sudah sesuai dengan peta mitigasi bencana yang BPBD miliki.

BACA JUGA: Tanah Longsor Dominasi Bencana di Semarang Sepanjang 2025, BPBD Catat 160 Kejadian

Beberapa kecamatan yang masuk kategori rawan longsor antara lain Banyumanik, Candisari, Gajahmungkur, Tembalang, dan Ngaliyan.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan lebat di Semarang juga kerap disertai angin kencang. Kondisi tersebut termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi, yakni bencana yang di picu oleh faktor cuaca ekstrem.

“Hujan dengan intensitas tinggi bersamaan angin ini masuk dalam hidrometeorologi. Aktivitas cuaca seperti ini masih harus sangat diwaspadai,” kata Endro.

Untuk mengurangi risiko bencana yang lebih luas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana turut melakukan operasi modifikasi cuaca.

Tim dari BNPB diterjunkan untuk mengendalikan curah hujan agar tidak terkonsentrasi di wilayah daratan, khususnya daerah rawan longsor dan banjir.

“BNPB kemarin mengirimkan tim untuk operasi modifikasi cuaca. Tujuannya mengurangi curah hujan tinggi dengan mengalihkan hujan ke perairan utara Jawa,” ungkapnya.

Menurut Endro, operasi modifikasi cuaca tidak hanya satu kali berjalan. Pelaksanaannya membutuhkan beberapa hari dan terus mereka sesuaikan dengan kondisi cuaca serta hasil koordinasi dengan BNPB.

“Tidak bisa hanya sekali. Ini harus terlaksana beberapa hari dan terus kami koordinasikan dengan BNPB,” tambahnya.

Meski kejadian longsor cukup masif, Endro memastikan seluruh peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sejumlah warga mengalami kerugian material akibat rumah dan infrastruktur yang terdampak.

BPBD Kota Semarang pun terus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah perbukitan, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan masih berlangsung.

“Kami minta masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan tetap waspada. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, tetapi potensi bencana masih ada,” pungkas Endro.(*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp