Jateng

Tanah Longsor Dominasi Bencana di Semarang Sepanjang 2025, BPBD Catat 160 Kejadian

×

Tanah Longsor Dominasi Bencana di Semarang Sepanjang 2025, BPBD Catat 160 Kejadian

Sebarkan artikel ini
BPBD: Pembersihan Longsor Talud Pabrik Es di Candisari Manual, Korban Dikontrakkan Rumah Setahun
Kondisi rumah hancur tertimpa talud pabrik es yang roboh di Candisari Semarang. (Doc. Humas)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sepanjang tahun 2025, tanah longsor menjadi bencana alam yang paling sering terjadi di Kota Semarang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat sebanyak 160 kejadian longsor, mayoritas terjadi di wilayah dengan kontur perbukitan dan masuk dalam kawasan rawan bencana.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengatakan sebaran kejadian longsor tersebut masih sejalan dengan peta Kawasan Rawan Bencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi geografis menjadi faktor utama yang memicu tingginya potensi longsor, terutama saat curah hujan meningkat.

“Wilayah yang mengalami longsor sebagian besar berada di kecamatan dengan kondisi perbukitan. Ini sesuai dengan peta kerawanan yang sudah kami miliki,” ujar Endro, Selasa, 6 Januari 2026.

Beberapa kecamatan yang mencatat kejadian longsor tertinggi antara lain Kecamatan Candisari, Ngaliyan, Gajahmungkur, Tembalang, dan Gunungpati.

Di wilayah tersebut, sejumlah kelurahan seperti Candisari, Wonosari, Lempongsari, Tandang, hingga Sadeng menjadi titik perhatian BPBD dalam upaya mitigasi ke depan.

BACA JUGA: Lapak PKL Dibangun di Atas Saluran Air Jalan Gajah Raya Semarang Akhirnya Dibongkar

Menurut Endro, BPBD terus mendorong langkah pencegahan, mulai dari edukasi masyarakat, pemantauan lereng rawan longsor, hingga koordinasi lintas sektor untuk mengurangi risiko bencana.

“Wilayah-wilayah ini menjadi prioritas kami dalam upaya mitigasi agar dampak bencana bisa kami tekan,” jelasnya.

Selain tanah longsor, BPBD juga mencatat rumah roboh sebagai bencana kedua terbanyak sepanjang 2025.

Dari total 79 kejadian rumah roboh, sebanyak 27 di antaranya karena adanya pohon tumbang, sementara sekitar 40 kejadian lainnya di picu oleh longsor.

“Sebagian rumah roboh juga lantaran usia bangunan yang sudah lapuk, serta beberapa kejadian akibat angin puting beliung,” kata Endro.

Dari sisi korban jiwa, BPBD Kota Semarang mencatat sembilan orang meninggal dunia akibat bencana sepanjang tahun 2025. Peristiwa kebakaran menjadi penyebab utama tingginya jumlah korban meninggal tersebut.