SEMARANG, beritajateng.tv – Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Semarang memiliki biaya hidup yang lebih tinggi dibanding kota-kota lain. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Kota Semarang memiliki biaya hidup tertinggi kelima se-Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bekasi dan Depok.
Menurut BPS, total pengeluaran per kapita Kota Semarang mencapai Rp 3.257.315. Angka tersebut sedikit melebihi Upah Minimun Kota (UMK) Kota Semarang tahun 2023 yang hanya Rp 3.060.349.
Pertanyaannya, apakah biaya hidup di Kota Semarang memang semahal itu? Bagaimana anak muda memenuhi gaya hidup dengan gaji, terutama para pendatang?
Arif, pegawai swasta di Kota Semarang mengakui bahwa biaya hidup di Kota Semarang kian mahal. Dalam sebulan, pengeluaran terbesar Arif adalah uang makan, rokok, dan tempat tinggal.
Misal perkiraan biaya makan dengan asumsi 3 kali sehari adalah Rp 10 ribu per makan. Sebulan sekitar Rp 900 ribu untuk makan. Sementara, karena Arif adalah seorang perokok aktif, ia menganggarkan Rp 600 ribu untuk rokok satu bulan.
Selain itu, ia juga menambahkan untuk kisaran biaya transportasi. Sebagai karyawan swasta yang bekerja di lapangan, ia membutuhkan sekitar Rp 300 ribu untuk uang bensin. Ia juga mengasumsikan kebutuhan internet Rp 100 ribu perbulan.
“Sisanya 600 ribu angsuran sepeda motor. Udah nggak ada sisa abis untuk kebutuhan primer,” ucap Arif.
Dengan gaji UMK, kata Arif, jangan kan untuk menabung, sekadar nongkrong, healing atau refresing saja tidak cukup.
“Mensiasatinya dengan gaji segitu, kita mencoba mencari tambahan-tambah di luar kerja utama,” imbuhnya.
Pengeluaran Untuk Perawatan Wajah
Sementara itu, Dinda Kusuma Hesti seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah instansi pemerintah juga menyampaikan hal senada. Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan sekitar Rp 3,2 juta.
Paling mahal, sebut Dinda, adalah pengeluaran untuk tempat tinggal. Apalagi, ia merupakan perantau dari Yogyakarta.
“Dana paling mahal dikeluarkan untuk sewa kos, sebulan Rp 975 ribu, ukuran kamar 2 x 3 meter. Walaupun kamar kosnya kecil, namun biayanya dan kenyamanannya cukup sepadan,” jelasnya.
Berbeda dengan Arif yang memiliki pengeluaran besar untuk rokok, Dinda memilih mengalokasikan sebagian dana untuk skincare dan makeup. Namun, Dinda mengaku cukup berhemat untuk urusan perawatan muka dan wajah tersebut.
“Karena tiap hari menggunakan skincare dan makeup, ya termasuk kebutuhan primer. Namun saya biasanya beli baru setelah skincare sebelumnya benar-benar habis,” imbuhnya.
Selain itu, ia cukup jarang nongkrong atau pergi ke coffee shop. Maksimal Dinda mengaku hanya 3 kali nongkrong dalam sebulan. Itupun rata-rata menghabiskan Rp 100 ribu setiap kali nongkrong.
BACA JUGA:Rajin Menabung di Bank Jateng, Perangkat Desa di Cilacap Ini Bawa Pulang Xpander
Sementara untuk mengatur keuangannya, Dinda mengatakan bahwa ia cukup rajin membuat rencana pengeluaran dan persentase. Baik dari penghasilan maupun pengeluaran membayar biaya operasional harian dan bulanan.
“Jujur untuk nonton konser saya hanya saat bertugas saja. Kalau pengeluaran untuk have fun gitu hanya bersifat insidental saja sih kalau lagi pengin. Nongkrong atau shopping mungkin maksimal 3 kali dalam sebulan,” imbuhnya.(*)
Editor: Farah Nazila





