SEMARANG, beritajateng.tv – Musim baratan kerap menjadi masa paling berat bagi nelayan di Kota Semarang. Gelombang tinggi dan cuaca ekstrem memaksa banyak perahu tetap bersandar di dermaga.
Demi keselamatan, nelayan memilih tidak melaut. Namun, keputusan itu sering berujung pada persoalan ekonomi, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan sampingan.
Di kawasan pesisir seperti Tambak Mulyo, musim baratan identik dengan berkurangnya penghasilan. Tak sedikit nelayan yang akhirnya menggantungkan hidup pada pinjaman bank titil atau rentenir untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi inilah yang mendorong Pemerintah Kota Semarang menyiapkan alternatif penghidupan bagi nelayan selama masa paceklik.
BACA JUGA: Nelayan Tak Melaut Akibat Cuaca Ekstrem, Wali Kota Semarang Turun Salurkan Bantuan Sembako
Melalui Dinas Perikanan, Pemkot Semarang merancang program pemberdayaan nelayan dengan fokus pada budidaya ikan air tawar. Program ini harapannya menjadi solusi sementara agar nelayan tetap memiliki sumber pendapatan meski tidak melaut.
“Kami melatih nelayan untuk berbudidaya ikan, sehingga mereka tetap bisa memperoleh penghasilan saat tidak melaut di musim baratan,” ujar Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto di kawasan Tambak Mulyo, Jumat, 9 Januari 2026.
Soenarto menjelaskan, program budidaya ikan air tawar ini masih berskala kecil dan bersifat percontohan.
Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran sekitar Rp87 juta dari pengalihan sejumlah kegiatan di Dinas Perikanan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Setiap nelayan peserta program akan menerima bantuan biaya sekitar Rp1,2 juta. Meski masih berupa pilot project, Soenarto optimistis program ini dapat memberi dampak positif dan menjadi embrio pengembangan program serupa dengan skala lebih besar ke depannya.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Perikanan menerapkan metode budidaya menggunakan gorong-gorong beton. Sistem ini ia pilih karena menyesuaikan dengan kondisi permukiman nelayan yang umumnya memiliki lahan terbatas.
“Rumah nelayan di sini relatif kecil. Dengan gorong-gorong beton, mereka bisa menaruh kolam di depan rumah. Metodenya sederhana, tidak perlu keahlian khusus, tapi tetap menghasilkan,” jelas Soenarto.





