Melihat kondisi itu, sang nenek memberikan minyak kayu putih atau urut. Di sinilah mendapati luka lebam memar kebiruan.
”Simbah lihat kok ada memar biru, terus dia sampaikan ke saya. Aqib lalu pulang, saya tanya Aqib kenapa? ’gak apa apa, Aqib jatuh’,” kata Diah.
BACA JUGA: Polisi Rekonstruksi Kasus Mozza di Semarang, 2 Titik Penting untuk Cari Fakta Baru
Dia mencurigai, ekspresinya sang putra yang sudah ketakutan, berbeda, menghindar. Melihat kondisi itu, sang ibu urung bertanya lebih lanjut.
”Nah itu malamnya, dia sudah reaksi gak karuan. Sakit banget katanya. Setelah sakit banget, saya sama suami kirain dari pola makan dan jajan. Akhirnya saya periksakan ke dokter,” kata Diah.
Reaksi Dokter
Diah berkata, setelah dokter memeriksa Aqib, dia menjelaskan kondisi sang putra bukan soal pola makan.
Dokter bilang, perutnya lebam oleh karena semacam pukulan yang mengenai. Lantas dokter menanyai Aqib.
”Aqib perutnya kenapa sakit kenapa?’ Aqib bilang, dipukul kakak kelas, tiga anak. Itu saya baru tahu,” kata Diah menirukan komunikasi dokter dan putranta,
Kondisi itulah, baru Diah ketahui pada hari ketiga setelah Aqib merasakan sakit.
”Itu saya baru tahu kalau Aqib ternyata dipendam sendiri habis kena pukul,” katanya.
BACA JUGA: Polda Jateng Bantah Isu Ortu Anak Terduga Perundung Siswa SD Pemalang Anggota Polisi, Polres Sudah Cek KK
Dokter, kata Diah, lantas menyarankan untuk langsung ke ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS).
Saat itu, Diah berkata, Aqib mulai bercerita apa yang terjadi pada dirinya. Aqib bercerita sendiri ke perawat dan dokter.
”Dia bilang dipukulin di perut dan belakang (menunjuk punggung), lututnya memar. Sampai saya baru tahu dia sempat berdarah mimisan. Tahunya dari teman-temannya dan wali murid yang melihat,” katanya. (*)





