SEMARANG, beritajateng.tv – Diah Indriyanti, ibu dari Muhammad Hasbi Al Aqib (7) siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, terus mencari keadilan atas dugaan perundungan yang menimpa anaknya hingga menyebabkan meninggal dunia, pada Rabu, 30 September 2026.
Diah Indriyanti mulai membuka diri untuk menyuarakan apa yang terjadi kepada publik. Salah satunya melalui podcast pada kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, yang tayang, Rabu, 7 Oktober 2026.
Diah Indriyanti, mengatakan sosok keseharian putra tercintanya Aqib di lingkungan tempat tinggalnya, sebelum kejadian yang menimpa.
BACA JUGA: Kepsek SD di Pemalang Dicopot Jabatan, Polisi Tangani Dugaan Kasus Perundungan Siswa hingga Meninggal Dunia
Diah bilang, Aqib merupakan sosok yang sehat, ceria, dan terbuka dengan orang tuanya, dan rajin beribadah.
“Sebelum kejadian kaya gini, beliau sehat, ceria, sering bantu orang tua. Dia anaknya rajin ngaji, salat,” katanya.
Diah mengatakan, sosok Aqib tidak pernah bermain dengan jarak yang jauh dan membuat khawatir.
“Gak pernah main kemana-mana. Cuma main ke rumah simbah (kakek-nenek). Main sama anak yang rumahnya di depan rumah simbah,” ucap dia.
BACA JUGA: Rekonstruksi Kasus Mozza di Semarang, Jaksa Cari Unsur Perencanaan Pembunuhan
Curigai Perilaku Aqib Berubah
Akan tetapi, Diah mengatakan, ada sikap yang berbeda semenjak kejadian dugaan perundungan yang menimpa diri Aqib.
“Itu memang agak beda, dari makan minum sama raut wajah seperti kaya menghindar dari saya,” bilangnya.
Bahkan, kata Diah, Aqib Ganti baju sendiri sesaat sampai rumah dari sepulang sekolah.
”Terus Aqib bilang ’mama, Aqib mau ke rumah simbah’. Simbah itu nenek sama kakek.,” katanya.
BACA JUGA: Ayah Mozza Emosi Lihat Tersangka Pembunuh Putrinya, Tahan Air Mata saat Rekonstruksi Adegan
Nenek Aqib Dapati Luka Lebam di Tubuhnya
Diah mengatakan, timbul kecurigaan dari nenek Aqib karena melihat cara makan sang cucu yang tidak lagi lahap dan kondisi lemas.
Melihat kondisi itu, sang nenek memberikan minyak kayu putih atau urut. Di sinilah mendapati luka lebam memar kebiruan.
”Simbah lihat kok ada memar biru, terus dia sampaikan ke saya. Aqib lalu pulang, saya tanya Aqib kenapa? ’gak apa apa, Aqib jatuh’,” kata Diah.
BACA JUGA: Polisi Rekonstruksi Kasus Mozza di Semarang, 2 Titik Penting untuk Cari Fakta Baru
Dia mencurigai, ekspresinya sang putra yang sudah ketakutan, berbeda, menghindar. Melihat kondisi itu, sang ibu urung bertanya lebih lanjut.
”Nah itu malamnya, dia sudah reaksi gak karuan. Sakit banget katanya. Setelah sakit banget, saya sama suami kirain dari pola makan dan jajan. Akhirnya saya periksakan ke dokter,” kata Diah.
Reaksi Dokter
Diah berkata, setelah dokter memeriksa Aqib, dia menjelaskan kondisi sang putra bukan soal pola makan.
Dokter bilang, perutnya lebam oleh karena semacam pukulan yang mengenai. Lantas dokter menanyai Aqib.
”Aqib perutnya kenapa sakit kenapa?’ Aqib bilang, dipukul kakak kelas, tiga anak. Itu saya baru tahu,” kata Diah menirukan komunikasi dokter dan putranta,
Kondisi itulah, baru Diah ketahui pada hari ketiga setelah Aqib merasakan sakit.
”Itu saya baru tahu kalau Aqib ternyata dipendam sendiri habis kena pukul,” katanya.
BACA JUGA: Polda Jateng Bantah Isu Ortu Anak Terduga Perundung Siswa SD Pemalang Anggota Polisi, Polres Sudah Cek KK
Dokter, kata Diah, lantas menyarankan untuk langsung ke ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS).
Saat itu, Diah berkata, Aqib mulai bercerita apa yang terjadi pada dirinya. Aqib bercerita sendiri ke perawat dan dokter.
”Dia bilang dipukulin di perut dan belakang (menunjuk punggung), lututnya memar. Sampai saya baru tahu dia sempat berdarah mimisan. Tahunya dari teman-temannya dan wali murid yang melihat,” katanya. (*)





