Gaya Hidup

Cek Sinopsis Film Patah Hati yang Kupilih, Kisah Asmara Sepasang Kekasih Beda Agama

×

Cek Sinopsis Film Patah Hati yang Kupilih, Kisah Asmara Sepasang Kekasih Beda Agama

Sebarkan artikel ini
Film Patah Hati yang Kupilih
Film Patah Hati yang Kupilih. Foto:Ig/@prillylatuconsina96

SEMARANG, beritajateng.tv – Film bioskop akhir tahun 2025 bertajuk Patah Hati yang Kupilih berhasil mencuri perhatian publik.

Cuplikan trailer-nya sekilas menampilkan kisah sepasang kekasih yang saling mencintai, namun terhalang perbedaan keyakinan.

Salah satu daya tarik utama film ini adalah kehadiran Prilly Latuconsina dan Bryan Domani sebagai pemeran utama.

Lantas, seperti apa keseruan cerita yang ditawarkan? Berikut ulasan singkat mengenai sinopsis film tersebut.

BACA JUGA: Tayang 8 Januari 2026 di Bioskop! Berikut Rekomendasi Film Indonesia Terbaru dengan Kisah yang Seru

Sinopsis Film Patah Hati yang Kupilih

Film ini mengisahkan perjalanan Ben (Bryan Domani) dan Alya (Prilly Latuconsina), dua mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan lintas agama.

Hubungan tersebut berujung pada kesalahan besar hingga lahir seorang anak dari kisah mereka.

Cinta Ben dan Alya kemudian terbentur perbedaan keyakinan serta tidak adanya restu dari orangtua.

Meski demikian, keduanya tetap harus berperan sebagai orangtua bagi putri mereka, Freya (Humaira Jahra), sambil berusaha menahan perasaan cinta yang masih tersisa di antara mereka.

Film ini tidak semata-mata menyuguhkan kisah asmara dua insan yang berbeda keyakinan.

Sepanjang durasinya, penonton juga akan menyelami lapisan cerita lain yang memperkaya alur.

Seperti perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak serta proses merelakan cinta di masa lalu.

Unsur-unsur tersebut membuat cerita terasa utuh dan mudah, tanpa harus memahami secara terpisah layaknya menyusun kepingan puzzle.

BACA JUGA: Daftar 7 Film Terbaru Indonesia yang Tayang di Bioskop Awal Januari 2026, Horor Kembali Mendominasi

Meski demikian, konflik yang hadir dalam Patah Hati yang Kupilih masih terasa kurang mencapai puncaknya.

Beberapa persoalan terkesan terburu-buru dan cepat mereda, sehingga tensi konflik menjadi kurang kuat dan kurang menggugah emosi penonton.

Padahal, konflik-konflik tersebut masih berpotensi melebar agar cerita tampil lebih dramatis dan berkesan.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Patah Hati yang Kupilih tetap layak disaksikan di layar lebar. (*)