“Dulu sebelum ada SPBUN ini nelayan biasa beli di pengecer. Kalau beli solar harganya Rp 6.800 per liter. Tapi kalau di pengecer bisa sampai Rp 8.000 per liter. Sedangkan saya butuh 50 liter lebih. Tentunya harus nambah kocek,” jelasnya.
Begitu juga dengan Khamim (35). Baginya yang hanya nelayan kecil, uang puluhan ribu sangatlah berarti baginya. Terlebih tangkapan para nelayan saat ini tidak terlalu bagus.
“Seharian melaut hanya dapat sedikit. Apalagi terkadang cuaca gak mendukung. Kalau sudah keluar uang lebih untuk beli solar ya rasane ‘eman’ banget,” imbuh Antok.
Sementara itu, Branch Manager Rayon II Tegal PT Pertamina Patra Niaga Ahmad Fernando, menyebut, ada 3 SPBUN di Kabupaten Pemalang, salah satunya berada di Desa Mojo.
SPBUN Mojo merupakan stasiun BBM yang dikelola BUMD. Di SPBUN ini setiap bulan bisa tersalurkan 300 kiloliter (KL) Biosolar untuk sekitar 700san nelayan Mojo dan Ketapang.
“Di Mojo itu penyalurannya untuk 700san nelayan tapi kan nggak setiap hari mereka melaut. Sedangkan Kabupaten Pemalang itu kebutuhannya 14.400 KL per tahun untuk 3 SPBUN. Sudah 90 persen terealisasi penyaluran dari bulan Januari hingga September yang artinya kuota di Pemalang sudah melebihi permintaan nelayan,” jelasnya.
Pihaknya menyebut, terus melakukan pengawasan terhadap penyaluran Biosolar ini. Bahkan Pertamina mewajibkan nelayan untuk mengantongi izin rekomendasi dari Dinas terkait. Hal ini agar distribusi solar subsidi ini merata dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Harus ada surat rekomendasi dari dinas karena mereka yang mengeluarkan kuota solar untuk nelayan. Di SPBUN juga ada sistem monitoring dan pencatatan karena setiap pengeluaran BBM subsidi harus tercatat,” tegasnya.

Sementara itu, Manager Fuel Terminal Tegal Wardiyono menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk terus mencukupi kebutuhan solar bagi para nelayan.





