Datang Demi Bertemu Kucing Viral
Cerita lain datang dari Widya, wanita 25 tahun asal Genuk pemilik tujuh ekor kucing yang hadir ke festival karena ingin bertemu langsung dengan Emma, kucing yang belakangan viral di medsos.
Baginya, melihat kucing viral secara langsung memberikan pengalaman berbeda daripada hanya melihat melalui layar ponsel.
“Emma lagi ramai di sosmed. Jadi sekalian ke sini buat ketemu langsung,” katanya.
Widya sendiri datang bersama Zzar, kucing kampung berusia hampir dua tahun. Meski bukan ras premium, Zzar menjadi kesayangan keluarga karena memiliki karakter yang unik.
Menurut Widya, setelah menjalani sterilisasi, Ian berubah menjadi jauh lebih tenang.
“Dulu suka berontak, sekarang lebih kalem. Kayak anak remaja yang mulai dewasa,” ujarnya.
Pelihara 7 Kucing di Rumah
Di rumah, Widya memelihara tujuh ekor kucing dari berbagai jenis, mulai dari kucing kampung, munchkin hingga anggora. Ia mengaku setiap jenis memiliki karakter dan kebutuhan berbeda.
Khusus kucing kampung, menurutnya, cenderung tidak pilih-pilih makanan dan memiliki daya tahan tubuh lebih baik.
Namun jika ada satu kucing yang sakit, ia langsung memisahkannya agar tidak menularkan penyakit kepada kucing lain.
“Kalau kelihatan sakit langsung diisolasi, lalu dibawa ke dokter. Jangan coba-coba kasih obat warung karena mereka bukan manusia,” tegasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tujuh anabul tersebut, Widya mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp1,5 juta setiap bulan hanya untuk makanan. Angka itu belum termasuk biaya pengobatan apabila ada kucing yang sakit.
BACA JUGA: Jadi Tersangka, Pelaku Tendang Kucing Viral di Blora Terancam 1 Tahun Penjara
Di balik tingkah menggemaskan para anabul, tersimpan kisah tentang hubungan emosional yang kuat antara pemilik dan hewan peliharaan mereka.
Festival seperti ini pun menjadi ruang bagi para pencinta hewan di Semarang untuk saling berbagi pengalaman, bertukar pengetahuan mengenai perawatan anabul, hingga akhirnya bertemu langsung dengan kucing-kucing yang selama ini hanya dikenal lewat media sosial. (*)
Editor: Farah Nazila





