Politik

Contohkan Cabup Demak Eistianah, Pengamat Undip: Hampir Semua Perempuan Bisa Maju Pilkada Karena Privilege

×

Contohkan Cabup Demak Eistianah, Pengamat Undip: Hampir Semua Perempuan Bisa Maju Pilkada Karena Privilege

Sebarkan artikel ini
Perempuan Pilkada
Pengamat politik Universitas Diponegoro, Puji Astuti, saat beritajateng.tv temui di FISIP Undip, Jumat, 1 November 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pengamat politik Universitas Diponegoro, Puji Astuti, menyebut hampir seluruh calon kepala daerah perempuan yang berpartisipasi dalam Pilkada memiliki privilese dari kerabatnya.

Ia mencontohkan di Jawa Tengah ada petahana Bupati Demak, Eistianah, yang berlaga kembali dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Demak 2024.

Puji yang menggeluti bidang perempuan dan politik itu menyebut Eistianah bisa menjadi Bupati Demak lantaran pengaruh keluarganya di bidang politik. Hal itu terungkap oleh Puji saat beritajateng.tv temui di FISIP Undip, belum lama ini.

BACA JUGA: Eks Komisioner KPU RI Kritik Usulan Pemilu 10 Tahun Sekali: Masa Jabatan Tak boleh Terlalu Panjang

“Misalnya di Demak ya, itu kan incumbent. Dulu dia [Eistianah] maju karena siapa? Kan ayahnya. Hampir semua perempuan yang masuk di Pilkada, baik itu cabup atau cawabup pasti dikasih karpet merah oleh orang tua, suami, atau saudara laki-laki yang punya pengaruh dalam politik,” ungkap Puji.

Dalam hematnya, perempuan yang memiliki karier mentereng di dunia politik Indonesia masih tak bisa lepas dari sokongan kerabat laki-lakinya.

“Sedikit sekali yang memang tidak punya latar belakang seperti itu. Memang ada politik kekerabatan,” sambungnya.

Tak hanya Pilkada, Puji soroti soal perolehan kursi DPR untuk perempuan

Tak hanya dalam perhelatan Pilkada 2024, minimya partisipasi perempuan dalam politik juga Puji soroti dalam Pileg 2024 lalu.

Meskipun, kata dia, syarat 30 persen pencalonan untuk perempuan sudah berlangsung berkali-kali dalam Pileg, namun tetap saja kursi legislatif untuk perempuan yang terpilih masih kurang dari 30 persen.

BACA JUGA: Survei Litbang Kompas Andika-Hendi vs Luthfi-Yasin: 54,7% Masyarakat Pilih Cagub Berlatar Belakang TNI

Menurutnya, biaya politik yang mahal untuk maju sebagai anggota legislatif menjadi salah satu alasan mengapa perempuan sulit untuk mendapatkan kursi.

“30 persen itu kita masih jauh banget, masih sulit. Karena apa? Mahal. Yang kemarin paling kecil butuh Rp5 miliar untuk di pusat [DPR RI]. Kalau sebagai calon, itu partisipasi perempuan memang sudah 37,7 persen, tapi terpilihnya baru sekitar 22,24 persen atau 129 dari 580. Itu masih jauh, padahal kita sudah lima kali Pemilu,” tegasnya.

Puji tuturkan ada caleg perempuan kenalannya yang harus mengalah karena kerabat elite parpol

Lebih lanjut, Puji membeberkan adanya diskriminasi perempuan dalam dunia politik yang menurutnya sudah jadi rahasia umum.

Puji menuturkan, parpol bagi perempuan bak tembok penghalang yang menyulitkan mereka untuk masuk.

Ia menuturkan, ada salah satu caleg perempuan kenalannya yang aktif di parpol. Kata dia, caleg perempuan itu mau tidak mau harus menerima nasibnya, yakni tergeser oleh kandidat yang memiliki hubungan erat dengan elite parpol tersebut.

“Parpol tidak semuanya juga bersih. Bersih dari apa? dari di bawah siapa, orangnya siapa. Yang saya tau, ada perempuan yang terluka. Dia sudah membangun wilayah di mana akan dicalonkan atau diusung. Dia digeser. Oleh siapa? Oleh anaknya elite partai, pemimpin parpol dari pusat,” ujar Puji.

BACA JUGA: Andika Perkasa-Hendrar Prihadi Ungguli Luthfi-Yasin di Survei Litbang Kompas, Hendi: Menang Tipis, Alhamdulillah

“Padahal bertahun-tahun sudah membabat wilayah di mana si perempuan itu sudah yakin kalau dia punya konsituen yang loyal kepada dia, tapi mau gak mau dia tergeser,” tandas dia.

Oleh sebabnya, ia berharap parpol memiliki standarisasi dalam merekrut seseorang, tanpa melakukan diskriminasi kepada perempuan.

“Parpol harus punya metode kualifikasi dalam merekrut pencalonan, orang yang dicalonkan harusnya ada standarisasi yang bisa diakses oleh siapa pun. Dia punya pengalaman politik, sudah jadi bagian dari partai; orang kan jadi bisa ngukur,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp