Gelombang laut yang mencapai 2 hingga 3 meter membuat aktivitas melaut menjadi sangat berisiko. Imam mengaku pernah mengalami kondisi terburuk pada 2024, ketika nelayan tidak bisa melaut hingga dua bulan.
“Gelombangnya besar sekali, benar-benar ekstrem. Tahun lalu pernah sampai dua bulan enggak melaut,” ungkapnya.
BACA JUGA: Lima Kampung Nelayan Merah Putih di Jateng Dapat Rp110 M, DKP: Untuk Dermaga hingga Cold Storage
Gelombang besar juga merusak alat tangkap dan sarana nelayan. Bambu penyangga kerang hijau banyak yang ambrol, sementara nelayan kerap mengalami luka-luka akibat gesekan ombak dan tiram di dasar laut.
“Ombak itu menggerus sampai dasar laut. Badan banyak luka, perih semua. Kerang juga banyak yang keseret ombak, makanya hasilnya sedikit,” pungkas Imam.
Hingga kini, nelayan Tambakrejo berharap cuaca segera membaik agar aktivitas melaut bisa kembali normal dan penghasilan nelayan pulih. (*)
Editor: Farah Nazila





