SEMARANG, beritajateng.tv – Cuaca ekstrem yang melanda perairan utara Jawa sejak pertengahan Desember 2025 berdampak langsung pada ekonomi nelayan Tambakrejo, Semarang.
Hasil tangkapan menurun drastis, membuat pendapatan nelayan merosot hingga ratusan ribu rupiah per hari.
Gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan tidak bisa melaut secara maksimal, bahkan sebagian terpaksa berhenti sementara.
Salah seorang nelayan kerang hijau Tambakrejo, Imam Mahmud Harianto, mengatakan kondisi cuaca ekstrem mulai terasa sejak pertengahan Desember dan berlanjut hingga awal Januari. Akibatnya, nelayan tidak bisa melaut setiap hari seperti saat cuaca normal.
“Kalau cuaca ekstrem nelayan enggak bisa melaut. Sejak pertengahan Desember sampai Januari ini melautnya enggak rutin, kadang satu minggu cuma tiga atau empat hari,” ujar Imam saat beritajateng.tv temui di rumahnya pada Rabu, 7 Januari 2026 malam.
BACA JUGA: Dukung Swasembada Pangan dan MBG, Pemerintah Bakal Bangun 100 Kampung Nelayan di Jawa Tengah
Imam mengungkapkan, dampak paling terasa adalah penurunan hasil tangkapan.
Saat cuaca normal, nelayan pencari kerang hijau bisa memperoleh hasil sekitar 1 hingga 1,5 kwintal per hari. Namun saat cuaca ekstrem, hasil tangkapan turun drastis.
“Kalau cuaca ekstrem paling dapat 30 sampai 40 kilogram. Jauh dibanding cuaca normal,” jelasnya.
Meski hasil tangkapan menurun, harga jual kerang justru cenderung naik akibat pasokan yang terbatas. Saat cuaca ekstrem, harga kerang berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, sementara saat cuaca normal hanya sekitar Rp5.000 per kilogram.
“Kalau cuaca normal ya dapat sekitar Rp900 ribuan. Tapi kalau cuaca ekstrem, paling cuma dapat Rp300 ribu sampai Rp350 ribu,” katanya.
Imam mengatakan bahwa nilai tersebut merupakan pendapatan kotor. Dalam sistem penjualan, hasil tersebut dibagi melalui koperasi. Nelayan memperoleh 60 persen, sedangkan koperasi mendapatkan 40 persen.
Selain berdampak pada pendapatan, cuaca ekstrem juga membahayakan keselamatan nelayan.





