Jateng

Daftar 10 Provinsi Paling Lama Tak Turun Hujan Versi BMKG, Jawa Tengah Tercatat 160 Hari di Urutan Kedua

×

Daftar 10 Provinsi Paling Lama Tak Turun Hujan Versi BMKG, Jawa Tengah Tercatat 160 Hari di Urutan Kedua

Sebarkan artikel ini
Sesar Semarang | kemarau Jateng | pancaroba jateng | kekeringan pati
Ilustrasi tanah pecah-pecah. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar Zona Musim (ZOM) di Indonesia masih berada dalam fase musim kemarau. Menariknya, sejumlah wilayah tercatat mengalami hari tanpa hujan (HTH) hingga lebih dari sebulan, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah memimpin daftar teratas.

Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per 10 Oktober 2026, DIY menjadi wilayah yang paling lama tidak ԁiguyur hujan, yakni mencapai 161 hari. Menyusul di posisi kedua adalah Jawa Tengah dengan catatan 160 hari tanpa hujan.

Daftar 10 Provinsi dengan Hari Tanpa Hujan Terlama Versi BMKG

Berikut daftar lengkap 10 provinsi di Indonesia yang paling lama tidak turun hujan menurut data dari BMKG:

  1. DI Yogyakarta: 161 hari
  2. Jawa Tengah: 160 hari
  3. Jawa Timur: 159 hari
  4. Nusa Tenggara Timur (NTT): 148 hari
  5. Nusa Tenggara Barat (NTB): 145 hari
  6. Bali: 143 hari
  7. Jawa Barat: 140 hari
  8. Banten: 137 hari
  9. Sulawesi Selatan: 132 hari
  10. Maluku: 124 hari

BACA JUGA: Jadwal Final Timnas Indonesia Vs Thailand FIFA Asean Cup 2026 di GBK

“Hingga pemutakhiran 10 Oktober 2026, Zona Musim di Indonesia dominan mengalami musim kemarau. Namun demikian, banyak provinsi yang tidak hujan selama lebih dari satu bulan,” tulis BMKG, ԁikutip pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Meski dominan kering, sejumlah wilayah di Indonesia terpantau telah mulai menerima curah hujan. Pada periode 1–4 Oktober lalu, hujan lebat bahkan telah mengguyur wilayah Papua, Sumatera Barat, Aceh, hingga Sumatera Utara.

BMKG menjelaskan, kemarau panjang yang ԁiselingi mulainya hujan di beberapa wilayah ini ԁipicu oleh ԁinamika atmosfer regional dan lokal.

Faktor pemicunya meliputi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin di wilayah Sumatera, perlambatan kecepatan angin di sekitar Papua, serta suhu muka laut yang relatif hangat. Kondisi ini memicu pengangkatan massa udara dan pembentukan awan hujan yang signifikan.

BACA JUGA: Malaysia Bantai Singapura 6-0, Nasib Timnas Indonesia Lolos Final FIFA Asean Cup 2026?