“Indonesia mungkin akan beli minyak dari US, kan sudah ada perjanjian ART antara US dan Indonesia,” ungkapnya.
Langkah diversifikasi sumber impor tersebut dinilai bisa menjadi strategi untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri, meski harga tetap sangat dipengaruhi dinamika global.
Tiket Pesawat Berpotensi Ikut Naik
Selain sektor energi, industri penerbangan juga terancam terdampak. Esther menyebut maskapai kemungkinan harus mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik udara yang tidak aman.
“Potensi kenaikan harga penerbangan juga bisa terjadi karena penerbangan tidak aman dan harus muter,” katanya.
Perubahan rute ini membuat waktu tempuh lebih lama dan konsumsi bahan bakar meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga tiket pesawat.
Mirip Dampak Perang Rusia-Ukraina
Esther menilai pola dampak ekonomi dari perang AS-Israel versus Iran ini kurang lebih serupa dengan konflik Rusia-Ukraina yang sebelumnya mengguncang pasar energi dan pangan dunia.
“Ini kurang lebih dampaknya sama dengan perang Rusia dan Ukraina,” ujarnya.
BACA JUGA: Ayatollah Alireza Arafi Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Berikut Profilnya
Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, Esther mengingatkan pentingnya kewaspadaan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama mengendalikan inflasi dan memastikan pasokan energi tetap aman.
Menurutnya, situasi global yang memanas membuat Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif agar tekanan terhadap harga energi, komoditas, hingga biaya transportasi tidak semakin membebani masyarakat dan fiskal negara.
“Kemungkinan terjadinya seperti ini akibat perang US-Israel vs Iran,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





