Meski demikian, tidak semua warga bisa memanfaatkan peluang tersebut karena mayoritas warga yang terdampak merupakan lansia dan tidak kuat bekerja di lapangan.
“Orang-orang tua kebanyakan, jadi enggak kuat tenaga,” imbuhnya.
Rumah Warga Retak karena Getaran Alat Berat
Sementara itu, warga bernama Faris (35) mengaku rumahnya mengalami retakan yang semakin melebar sejak proyek berjalan. Ia menduga getaran alat berat dan kondisi tanah labil menjadi penyebab utama.
“Sebelumnya ada retak, tapi belum seberapa. Setelah ada proyek ini tambah melebar,” kata Faris.
Ia menjelaskan, rumahnya mengalami perubahan struktur hingga pintu sulit ditutup akibat bangunan yang mulai bergeser.
“Pintu enggak bisa ditutup. Rumahnya seperti ketarik ke depan sama nyamping,” ujarnya.
Menurut Faris, pihak proyek sempat mendata dan memotret rumah-rumah yang mengalami keretakan. Namun hingga kini belum ada kepastian bentuk kompensasi atau perbaikan yang akan warga berikan.
“Katanya [akan] bertanggung jawab, tapi teknisnya belum dijelaskan. Diganti atau cuma ditambal juga belum tahu,” katanya.
Meski demikian, Faris mengaku masih berharap ada tanggung jawab nyata dari pihak terkait atas dampak yang warga alami.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian warga bahkan berharap rumah mereka di beli sekalian karena khawatir kondisi tanah terus bergerak dan memperparah kerusakan bangunan.
“Daripada retak terus, penginnya di beli sekalian,” pungkasnya.
BACA JUGA: Kecelakaan di Turunan Gombel Lama Semarang, Satu Orang Tewas
Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 BBPJN Jawa Tengah-DIY, Alfan Noor Rizal, mengatakan percepatan tersebut berlangsung seiring penutupan total akses jalan selama pekerjaan berlangsung.
“Target kita kemarin kita rencanakan 7 bulan, tapi kami berupaya bisa lebih cepat dari itu. Kami kemarin dapat ultimatum, setidaknya 3 atau 4 bulan kami upayakan sudah selesai,” ujarnya. (*)
Editor: Farah Nazila





