Jateng

Dampak Proyek Jalan Gombel Lama, Warga Keluhkan Debu hingga Rumah Retak

×

Dampak Proyek Jalan Gombel Lama, Warga Keluhkan Debu hingga Rumah Retak

Sebarkan artikel ini
jalan gombel lama
Jalan Gombel Lama yang ditutup karena proyek rekonstruksi jalan, Jumat, 29 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Proyek perbaikan Jalan Gombel Lama di kawasan Banyumanik, mulai membawa dampak langsung bagi warga sekitar. Selain aktivitas usaha yang menurun, sejumlah warga juga mengeluhkan rumah retak dugaan kuat akibat getaran selama proses perbaikan jalan berlangsung.

Ketua RT 05 RW 05 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Teguh Pramono (51), mengatakan proyek perbaikan jalan tersebut sebelumnya telah di sosialisasikan kepada warga sebagai upaya pembenahan akses jalan dan saluran drainase.

“Dari pemerintah sosialisasinya untuk perbaikan jalan, terus kanan-kiri saluran [air] juga,” ujar Teguh saat beritajateng.tv temui di kediamannya pada Jumat, 29 Mei 2026.

Ia menyebut pengerjaan awalnya diperkirakan berlangsung selama tujuh bulan. Namun belakangan disebut ada percepatan waktu pengerjaan menjadi sekitar empat hingga lima bulan.

“Kalau progresnya sudah jalan. Aspalnya sudah dibongkar, saluran juga mulai diperbaiki, trotoar juga sudah bagus,” katanya.

BACA JUGA: Penutupan Jalan Gombel Lama 7 Bulan, Akses Motor Buka Terbatas, Warga Khawatir Kehilangan Penghasilan

Meski mendukung proyek tersebut, Teguh mengakui dampak pembangunan mulai warga rasakan. Debu proyek hingga aktivitas pekerja menjadi keluhan sehari-hari masyarakat sekitar.

“Kalau resah ya semua sudah resah. Kadang debu, terus kaya proyek pekerja [truk semen] juga. Tapi ya kita hati-hati saja, semoga terbaik buat kampung sini,” ucapnya.

Dampak Kegiatan Ekonomi yang Menurun

Menurutnya, dampak ekonomi juga mulai terasa, terutama bagi pelaku UMKM di sekitar Jalan Gombel Lama. Beberapa usaha bahkan memilih pindah karena sepinya pelanggan selama akses jalan di tutup.

“Untuk UMKM juga ada penurunan. Ada yang pindah seperti tambal ban,” jelasnya.

Namun bagi pemilik toko yang berada di rumah sendiri, kondisi tersebut menjadi lebih sulit karena tidak memungkinkan untuk relokasi usaha.

Teguh mengatakan, hingga kini belum ada kompensasi bagi warga terdampak. Sebagai solusi sementara, pihak proyek hanya menawarkan pekerjaan bagi warga sekitar yang terdampak langsung.

“Katanya enggak ada kompensasi. Cuma yang kena imbas bisa kerja di pembangunan itu,” katanya.

Meski demikian, tidak semua warga bisa memanfaatkan peluang tersebut karena mayoritas warga yang terdampak merupakan lansia dan tidak kuat bekerja di lapangan.

“Orang-orang tua kebanyakan, jadi enggak kuat tenaga,” imbuhnya.

Rumah Warga Retak karena Getaran Alat Berat

Sementara itu, warga bernama Faris (35) mengaku rumahnya mengalami retakan yang semakin melebar sejak proyek berjalan. Ia menduga getaran alat berat dan kondisi tanah labil menjadi penyebab utama.

“Sebelumnya ada retak, tapi belum seberapa. Setelah ada proyek ini tambah melebar,” kata Faris.

Ia menjelaskan, rumahnya mengalami perubahan struktur hingga pintu sulit ditutup akibat bangunan yang mulai bergeser.

“Pintu enggak bisa ditutup. Rumahnya seperti ketarik ke depan sama nyamping,” ujarnya.

Menurut Faris, pihak proyek sempat mendata dan memotret rumah-rumah yang mengalami keretakan. Namun hingga kini belum ada kepastian bentuk kompensasi atau perbaikan yang akan warga berikan.

“Katanya [akan] bertanggung jawab, tapi teknisnya belum dijelaskan. Diganti atau cuma ditambal juga belum tahu,” katanya.

Meski demikian, Faris mengaku masih berharap ada tanggung jawab nyata dari pihak terkait atas dampak yang warga alami.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian warga bahkan berharap rumah mereka di beli sekalian karena khawatir kondisi tanah terus bergerak dan memperparah kerusakan bangunan.

“Daripada retak terus, penginnya di beli sekalian,” pungkasnya.

BACA JUGA: Kecelakaan di Turunan Gombel Lama Semarang, Satu Orang Tewas

Sebelumnya, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 BBPJN Jawa Tengah-DIY, Alfan Noor Rizal, mengatakan percepatan tersebut berlangsung seiring penutupan total akses jalan selama pekerjaan berlangsung.

“Target kita kemarin kita rencanakan 7 bulan, tapi kami berupaya bisa lebih cepat dari itu. Kami kemarin dapat ultimatum, setidaknya 3 atau 4 bulan kami upayakan sudah selesai,” ujarnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp