Jateng

Dari Arsip Koran 1945 hingga Sosok Bambang Suprapto, Pameran di Semarang Ungkap Jejak Pertempuran Lima Hari

×

Dari Arsip Koran 1945 hingga Sosok Bambang Suprapto, Pameran di Semarang Ungkap Jejak Pertempuran Lima Hari

Sebarkan artikel ini
Pertempuran Lima Hari Semarang
Pameran sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah Pohan, Kota Lama, bertajuk "Dari Semarang Kita Mulai", Jumat, 16 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Siapa saja tokoh di balik Pertempuran Lima Hari di Semarang? Pertanyaan itu menjadi salah satu hal yang ingin ԁijawab melalui pameran sejarah di Rumah Pohan Semarang bertajuk “Dari Semarang Kita Mulai”.

Pameran ini tak sekadar mengajak pengunjung mengenang pertempuran yang terjadi pada Oktober 1945. Pameran tersebut berlangsung dari Kamis hingga Minggu, 15 s.d. 18 Oktober 2026.

Rumah Pohan juga berupaya menggali kembali sumber sejarah dari perspektif lokal, mulai dari dokumen hingga kesaksian lisan, untuk melengkapi catatan tentang perjuangan di Kota Semarang.

Manajer Pengembangan Program Rumah Pohan sekaligus kurator pameran, Kesit Wijanarko, mengatakan pendekatan tahun ini berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang bertajuk Ketika Api Menyala di Semarang.

Pada pameran sebelumnya, sumber dari pihak Sekutu dan Jepang lebih banyak ԁigunakan. Sementara tahun ini, tim kurator berusaha menyeimbangkan perspektif tersebut dengan data lokal hasil penelusuran dan riset.

“Tahun lalu kami lebih mengutamakan sumber-sumber data yang berasal dari pihak Sekutu dan Jepang. Tahun ini, kami berusaha menyeimbangkannya dengan data-data lokal, baik berupa sumber tutur maupun dokumen yang kami peroleh dari penelusuran dan riset para kurator,” kata Kesit, Jumat, 16 Oktober 2026.

BACA JUGA: Peringati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Wali Kota Agustina Ajak Warga Rawat Nilai Perjuangan

Arsip Koran Lama Jadi Petunjuk Sejarah

Salah satu bagian yang menarik dalam pameran tersebut adalah kehadiran surat kabar asli dari masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Koleksi itu berasal dari arsip pendiri Rumah Pohan, termasuk koran Warta Indonesia edisi Oktober 1945.

Pengunjung juga dapat melihat koran Merdeka dan Sinar Baru. Arsip tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bagaimana media massa pada masa itu merekam berbagai peristiwa, termasuk Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dokumen sezaman ԁinilai penting untuk memperkaya pemahaman mengenai situasi pada masa revolusi. Arsip itu juga dapat menjadi bahan pembanding untuk memeriksa kembali informasi yang selama ini ԁigunakan dalam penulisan sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang.