“Kita bangun semua Pegunungan Bintang, tapi yang utama adalah sumber daya manusia, mereka harus sekolah sampai S3 sehingga 30 tahun kedepan,” tegas Spei Yan Bidana.
Bupati juga menyampaikan, kekayaan alam yang dimiliki bisa menjadi kutukan kalau tidak memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga kekayaan alam bisa habis.
“Inilah yang memotivasi kami untuk mencetak generasi yang menguasai sains dan teknologi bagi kemajuab Kabupaten Peginungan Bintang ke depan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Beri Benefit Calon Mahasiswa Baru, UKSW Salatiga Hadirkan Program Daftar Cepat
Spei Yan Bidana mengatakan, target selanjutnya adalah mengirim untuk mengikuti sekolah kedinasan di seluruh departemen agar memiliki akses di seluruh Indonesia.
Kemudian, berlanjut dengan pembangunan universitas. “Karena itu, mereka yang hari ini berprestasi akan direkomendasikan untuk menjadi calon dosen di universitas tersebut,” tandasnya.
Di lain pihak? Bupati Spei Yan Bidana juga menyoroti minimnya akses ke Pegunungan Bintang. Padahal Pegunungan Bintang merupakan beranda negara karena berbatasan dengan Papua Nugini.
Mala pemerontah daerah Pegunungan Bintang juga melakukan diplomasi internasional kebudayaan dan pendidikan demi pembangunan di daerahnya.
Sementara itu Staf Ahli Bupati Pegunungan Bintang, Prof Yohannes Sardjono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, pembangunan SDM di Pegunungan Bintang menjadi yang utama.
Karena Pegunungan Bintang tidak memiliki akses darat, baik dari Merauke maupun Jayapura. “Maka Pemerintah pusat harus membangun akses ini demi kemajuan daerah,” jelasnya.
Selain itu juga ada sejumlah tantangan pembangunan di Pegunungan Bintang. Yakni ketiadaan akses IT. Sehingga masyarakat sulit mengikuti perkembangan zaman.
Oleh karena itu ia juga meminta agar Starlink diperbanyak. “Selanjutnya juga ketersedian listrik, yang saat ini hanya menyala enam jam per hari,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





