SEMARANG, beritajateng.tv – Matematika kerap menjadi momok bagi siswa sekolah dasar. Di SDN Pendrikan Lor 01 Semarang, stigma itu perlahan runtuh lewat inovasi pembelajaran yang digagas Eko Prasetyo, guru kelas V yang mengubah angka, rumus, dan konsep abstrak menjadi pengalaman belajar nyata dan menyenangkan.
Berangkat dari kegelisahan melihat masih banyak siswa kelas atas yang belum menguasai perkalian dasar, Eko memulai perubahan dari hal sederhana: “sarapan matematika” setiap pagi.
Ia mengajak anak-anak mengulang perkalian secara bertahap, mulai dari satuan hingga ratusan. Hasilnya tidak berhenti di kelas, setiap progres dicatat dan dilaporkan langsung kepada orang tua.
“Matematika itu bukan soal cepat menghafal, tapi membangun kebiasaan dan rasa percaya diri,” ujar Eko.
Inovasi Eko tidak berhenti pada drill, belajar atau latihan berulang. Saat mengajarkan luas bangun datar, ia menerapkan Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan kontekstual. Siswa diajak berperan sebagai pengusaha sukses yang memiliki peternakan dan perkebunan dengan luasan tertentu.
BACA JUGA: Matematika Gak Susah Lagi! Intip Cara Mudah Mahasiswa Unnes Hadirkan Media Belajar Ramah Disabilitas
Dengan kertas karton A2 berskala satu kotak sama dengan satu meter persegi, siswa bebas merancang lahan berbentuk persegi, segitiga, trapesium, atau bangun gabungan sesuai kreativitas kelompok. Mereka menghitung, memverifikasi, mewarnai, hingga menempel ikon peternakan dan perkebunan.
“Anak-anak menemukan sendiri konsep rumusnya. Guru hanya mengawal alurnya,” jelasnya.
Dari aktivitas ini, siswa tidak hanya memahami rumus, tetapi juga belajar kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Unplugged Coding hingga Literasi Digital Bijak
Tak hanya matematika, Eko juga mengintegrasikan coding dan computational thinking dalam pembelajaran. Melalui lima pos aktivitas, siswa berlatih berpikir logis tanpa selalu bergantung pada gawai.
Mulai dari unplugged coding menggunakan permainan tradisional, simulasi belanja hemat di aplikasi e-commerce untuk literasi finansial, navigasi Google Maps untuk menentukan rute tercepat, hingga game coding di platform digital. Perancangan semua itu agar siswa memahami teknologi secara kritis dan bijak.
“Anak-anak sekarang hidup di dunia digital. Tugas guru bukan melarang, tapi membimbing,” kata Eko.
Inovasi Eko juga melahirkan Osi Ceria, aplikasi pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) tentang sistem pencernaan manusia. Melalui kartu marker, siswa dapat melihat organ pencernaan secara 3D lengkap dengan video, kuis, dan tantangan berbentuk game.
Aplikasi ini mengantarkan Eko meraih Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kota Semarang 2025. Menurutnya, media interaktif membuat siswa tidak sekadar membaca, tetapi mengalami proses belajar secara visual dan kontekstual.
Bersama tim guru, Eko juga terlibat dalam pengembangan buku numerasi berbasis kearifan lokal. Anak-anak diajak belajar geometri dan pengukuran langsung di lingkungan sekitar, kampung tematik, pasar tradisional, hingga kawasan ikonik Kota Semarang.
BACA JUGA: Mbah Guru Matematika Viral Ngajar di TikTok Live Dapat Penghargaan dari Prabowo, Dapat Rp100 Juta!
Program ini berdampak nyata. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan numerasi siswa hingga lebih dari 40 persen, jauh melampaui target awal.
“Lingkungan sekitar adalah laboratorium belajar terbaik,” ujarnya.
Bagi Eko Prasetyo, inovasi bukan soal teknologi canggih semata, melainkan keberanian mengubah cara pandang. Dari kelas yang pasif menjadi ruang eksplorasi, dari rumus yang menakutkan menjadi cerita kehidupan sehari-hari.
“Harapan saya sederhana. Anak-anak senang belajar dan merasa apa yang mereka pelajari itu berguna untuk hidupnya kelak,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





