Saat mengurus administrasi kependudukan di Kota Semarang, keluarganya sempat menemukan adanya dua data NIK dan akhirnya memutuskan menggunakan NIK Semarang.
Meski demikian, ia memastikan NIK anaknya tetap sama baik saat masih tercantum dalam KK mertua maupun setelah keluarganya membuat KK sendiri.
“Setelah itu saya juga sempat pindah KK, dari awalnya ikut KK mertua lalu membuat KK sendiri. Tapi NIK anak saya di KK mertua maupun di KK yang baru itu sama, tidak ada yang beda,” tutur Yeni.
Oleh sebab itu, Yeni tidak memahami dari mana asal NIK yang muncul dalam sistem SPMB tersebut.
BACA JUGA: Jelang SPMB SMA/SMK, Mohammad Saleh Ingatkan Alokasi 232 Ribu Kursi Harus Terbuka
“Nah yang jadi pertanyaan saya, NIK yang muncul di Dinas Pendidikan itu NIK dari mana? Saya juga tidak tahu,” ujarnya.
Atas pengalaman tersebut, Yeni meminta sinkronisasi data antara sekolah, Disdukcapil, dan sistem SPMB ԁiperbaiki agar tidak menyulitkan masyarakat saat masa pendaftaran sekolah.
“Tolonglah ya, maksudnya sinkronisasi data itu kan harusnya wewenang sekolahan. Buat apa ada tahap verifikasi kalau pada akhirnya masih menyusahkan orang tua begini,” katanya.
Menurutnya, tujuan utama sistem pendaftaran online adalah mempermudah masyarakat. Namun yang ia alami justru sebaliknya.
“Kalau sistemnya belum siap, mending kembali ke sistem manual saja, tidak usah pakai online,” tandas Yeni. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





