Pendidikan

Dewan Soroti Rasio Guru di Sekolah Rakyat Semarang, 270 Siswa Hanya Diajar 20 Pengajar

×

Dewan Soroti Rasio Guru di Sekolah Rakyat Semarang, 270 Siswa Hanya Diajar 20 Pengajar

Sebarkan artikel ini
Dewan Soroti Rasio Guru di Sekolah Rakyat Semarang, 270 Siswa Hanya Diajar 20 Pengajar
Komisi D DPRD Kota Semarang melakukan sidak ke sekolah Rakyat Rowosari Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Sekolah Rakyat (SR), Kamis, 16 Juli 2026.

Dalam sidaknya, Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim mengapresiasi kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang.

Namun di balik fasilitas yang menurutnya memadai, kalangan legislatif menyoroti masih minimnya tenaga pendidik, wali asuh, hingga layanan psikolog bagi ratusan siswa yang akan tinggal di asrama.

Dalam kunjungan tersebut, para anggota dewan meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sekaligus melihat langsung kesiapan sarana dan prasarana sekolah.

Mualim, menilai keberadaan Sekolah Rakyat menjadi langkah nyata pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.

“Kami memberikan apresiasi karena Kota Semarang kini memiliki Sekolah Rakyat yang terintegrasi mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA. Ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA:

Menurut Mualim, konsep Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan gratis, tetapi juga menyediakan fasilitas penunjang yang dinilai sangat lengkap, mulai dari ruang kelas, asrama, hingga kebutuhan makan siswa.

“Fasilitasnya sangat baik. Ruang kelas, asrama, hingga pola pembelajarannya sudah pemerintah siapkan. Bahkan kami melihat anak-anak makan bersama, sehingga tumbuh rasa kebersamaan di antara mereka,” katanya.

Apresiasi Fasilitas Sekolah Rakyat

Tak hanya itu, ia mengapresiasi konsep pembinaan berkelanjutan yang pemerintah siapkan. Termasuk pendampingan bagi lulusan agar memiliki peluang kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Meski demikian, Komisi D menemukan sejumlah persoalan yang perlu segera ada pembenahan agar program tersebut berjalan optimal. Salah satunya menyangkut rasio tenaga pendidik dengan jumlah peserta didik.

Saat ini Sekolah Rakyat menampung 270 siswa yang terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Sementara jumlah guru yang tersedia baru sekitar 20 orang.

“Jumlah guru ini tentu perlu ada penambahan. Kami berharap guru-guru yang nantinya keterima melalui PPPK bisa mendapat prioritas. Untuk di tempatkan di Sekolah Rakyat agar beban mengajar tidak terlalu berat,” tegas Mualim.

Selain guru, DPRD juga menyoroti keterbatasan jumlah wali asuh yang akan mendampingi siswa selama tinggal di asrama.

Menurutnya, keberadaan wali asuh memiliki peran penting dalam membentuk karakter sekaligus memastikan kebutuhan peserta didik terpenuhi.

Komisi D juga mendorong agar layanan psikolog hadir dengan jumlah memadai. Pendampingan psikologis menurutnya penting mengingat siswa berasal dari latar belakang sosial yang beragam dan akan menjalani kehidupan di lingkungan berasrama.

Tak hanya itu, Mualim berharap daya tampung Sekolah Rakyat dapat terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Sehingga lebih banyak anak yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan gratis.

“Kami berharap seluruh anak yang mendaftar nantinya bisa tertampung. Jangan sampai banyak calon siswa yang harus tertunda hanya karena keterbatasan kuota,” pungkasnya.

Hanya Butuh Lima Guru Tambahan

Kepala Sekolah Rakyat (SR) di Rowosari, Semarang, Ridho Irwanto mengatakan, pada tahun ajaran 2026/2027 sekolah menampung 270 siswa. Yang terdiri dari 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA.

Jumlah tersebut akan terus bertambah pada tahun ajaran berikutnya seiring hadirnya peserta didik baru.

“Di awal tahun ajaran ini kami menampung 270 siswa, masing-masing 90 siswa untuk SD, SMP, dan SMA. Tahun depan jumlahnya tentu akan bertambah karena ada kakak kelas dan peserta didik baru,” ujarnya.

Ia mengakui proses Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi fase yang paling menantang. Mengingat seluruh siswa tinggal di asrama dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Ini masa yang sangat krusial. Anak-anak pasti mengalami proses adaptasi, termasuk rasa rindu kepada keluarga atau homesick. Karena itu kami membutuhkan dukungan tidak hanya dari sekolah, tetapi juga dari orang tua agar proses penyesuaian berjalan baik,” katanya.

Menurutnya, beberapa orang tua sudah datang menjenguk anak-anak mereka selama MPLS berlangsung.

Namun, pihak sekolah terus mengimbau agar orang tua ikut mendukung proses pembentukan karakter dan kemandirian siswa.

Bantah kekurangan guru

Menanggapi sorotan DPRD mengenai keterbatasan guru, ia menegaskan kondisi tersebut tidak separah yang dibayangkan.

“Sebenarnya bukan kekurangan guru yang signifikan. Operasional sekolah memang belum dalam kondisi ideal karena ini baru tahap awal. Guru SMA dan SMP yang ada masih bisa saling mendukung dalam proses pembelajaran,” jelasnya.

Meski demikian, sekolah masih membutuhkan tambahan lima tenaga pendidik. Terdiri atas tiga guru SD, satu guru Pendidikan Agama, dan satu guru Seni.

“Yang masih kami butuhkan adalah guru agama, guru seni, dan tambahan tiga guru SD. Selebihnya masih bisa kami atasi melalui sistem guru bantu,” ungkapnya.

Selama masa transisi hingga rekrutmen guru Sekolah Rakyat oleh pemerintah pusat pada September 2026, kebutuhan tenaga pendidik akan di penuhi melalui dukungan Dinas Pendidikan.

“Dinas Pendidikan sudah siap mengirim guru bantu sampai rekrutmen dari kementerian selesai pada September nanti,” katanya.

Selain tenaga pendidik, pihak sekolah memastikan kebutuhan pendampingan siswa juga telah dipersiapkan. Saat ini tersedia 17 wali asuh dengan rasio satu pendamping untuk 10 siswa. Jumlah tersebut akan diperkuat lagi dengan tambahan 10 wali asuh dari Direktorat Pendidikan.

“Wali asuh sudah tersedia dan kementerian juga sudah menyiapkan tambahan. Jadi untuk pendampingan siswa kami pastikan aman,” ujarnya.

Di bidang kesehatan, Sekolah Rakyat telah menjalin kerja sama dengan Puskesmas Rowosari untuk memberikan layanan medis kepada siswa. Sementara layanan psikologi didukung oleh Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang.

“Kalau ada kebutuhan layanan psikolog, kami bekerja sama dengan Unika. Selain layanan insidental, mereka juga memiliki program pendampingan khusus bagi siswa,” jelasnya.

Sementara itu, proses pembangunan fisik Sekolah Rakyat disebut hampir rampung. Saat ini pekerjaan hanya menyisakan tahap penyelesaian akhir atau finishing sehingga beberapa area belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya.

“Bangunan sudah selesai, sekarang tinggal pekerjaan finishing. Karena itu ada beberapa fasilitas yang masih belum bisa diakses sampai proses penyelesaiannya benar-benar tuntas,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp