Gaya Hidup

Diam Bukan Berarti Hilang: Zero Post Jadi Gaya Gen Z di Media Sosial

×

Diam Bukan Berarti Hilang: Zero Post Jadi Gaya Gen Z di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
zero post
Ilustrasi media sosial Instagram. (Foto: Freepik)

Namun, intensitas penggunaan tersebut tidak selalu berdampak positif. Bagi sebagian pengguna, media sosial justru memunculkan ԁilema antara hiburan dan kelelahan mental. Di satu sisi memberikan kesenangan, namun di sisi lain juga bisa menimbulkan rasa lelah akibat penggunaan yang berlebihan.

“Kadang bikin happy sih, tapi, sering juga capek sendiri karena kebanyakan scroll,” ungkap Akbar.

Putri pun merasakan hal serupa. Ia mengaku di awal penggunaan media sosial memang terasa menyenangkan, namun seiring waktu justru menimbulkan rasa lelah karena terlalu lama terpapar berbagai konten. “Awalnya senang tapi lama-lama capek juga.”

Di sisi lain, Artika menyebut media sosial lebih sebagai bentuk pelarian dari rasa bosan atau penat, meskipun tidak sepenuhnya memberikan dampak positif. Ia mengakui bahwa selain menjadi hiburan, media sosial juga kerap memicu perasaan tidak nyaman.

“Lebih ke hiburan aja, tapi tetap ada capeknya,” kata Artika, “kadang overthinking sendiri, sama hate comment orang-orang.”

BACA JUGA: Soal Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Psikolog: Jangan Lebih dari 3 Jam Sehari

Sementara itu, Akbar mengaku tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal negatif yang muncul di media sosial, seperti komentar atau penilaian dari orang lain.

Ia cenderung memiliki cara pandang yang lebih santai dan terbuka, sehingga tidak mudah terpengaruh secara emosional. “Saya ini menerima kritik atau saran orang-orang,” ujarnya.

Dari sudut pandang pengguna aktif, tren ini ԁinilai sebagai pergeseran cara berekspresi di media sosial. Perubahan ini menunjukkan bahwa tidak semua pengguna merasa perlu untuk selalu aktif membagikan konten, melainkan mulai mempertimbangkan dampak yang ԁitimbulkan dari interaksi di ruang ԁigital.

Fenomena ini juga ԁipandang sebagai bentuk upaya pengguna dalam menjaga kenyamanan dan kesehatan mental saat bermedia sosial. Beberapa di antaranya memilih untuk lebih membatasi interaksi atau tidak terlalu aktif membagikan konten demi menghindari respons negatif dari pengguna lain.

“Mungkin menghindari hate comment supaya enggak merasa insecure atau overthinking,” ujar Akbar.