Gaya Hidup

Soal Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Psikolog: Jangan Lebih dari 3 Jam Sehari

×

Soal Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Psikolog: Jangan Lebih dari 3 Jam Sehari

Sebarkan artikel ini
Pati Ponpes
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. saat dijumpai di kediamannya, Jumat, 20 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kebijakan pembatasan penggunaan media sosial (medsos) bagi anak di bawah usia 16 tahun yang mulai berlaku 28 Maret 2026 mendapat dukungan dari kalangan psikolog. Langkah pemerintah ini dinilai penting untuk melindungi perkembangan mental anak yang belum matang dalam menyaring informasi di ruang digital.

Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si menyatakan bahwa anak-anak pada usia tersebut masih berada dalam fase belajar dari lingkungan sekitar, sehingga sangat rentan meniru apa yang mereka lihat di medsos.

“Saya setuju. Karena anak-anak itu belajar model, mereka belajar dari lingkungannya. Mereka belum bisa menyaring konten sendiri. Kalau yang terus masuk ke pikirannya itu konten-konten tertentu, ya pikirannya akan ke situ terus,” ujarnya saat beritajateng.tv hubungi pada Jumat, 27 Maret 2026.

Menurutnya, anak usia di bawah 16 tahun umumnya belum memiliki kematangan berpikir untuk membedakan mana yang benar dan tidak. Mereka juga cenderung mengikuti tren atau perilaku teman sebaya tanpa pertimbangan matang.

“Usia segitu belum matang, belum bisa memilih mana yang benar atau tidak. Kalau temannya ikut, ya ikut. Bahkan sampai minta uang orang tua untuk beli kebutuhan game atau hal lain yang belum tentu penting,” jelasnya.

BACA JUGA: Komdigi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Punya Medsos Mulai Maret 2026, Ini Alasannya

Meski demikian, Probowatie menegaskan bahwa pembatasan medsos bukan berarti anak tidak boleh memegang ponsel sama sekali. Di era digital, penggunaan gawai juga menjadi bagian dari kebutuhan pendidikan.

“Sekarang sekolah juga butuh HP. Tapi penggunaannya harus dibatasi, jangan lebih dari tiga jam sehari. Itu pun diselingi istirahat,” katanya.

Ia juga mengingatkan dampak penggunaan gawai berlebihan tidak hanya dari sisi psikologis, tetapi juga kesehatan fisik anak, seperti gangguan postur tubuh hingga perkembangan otak.

“Anak-anak itu masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kebanyakan pegang HP, postur tubuhnya jadi enggak tegap. Otak juga kalau kebanyakan kena HP juga enggak bagus perkembangannya,” jelasnya.