SEMARANG, beritajateng.tv – Masjid Taqwa Sekayu yang berada di Kampung Sekayu, Semarang Tengah, selama ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Jawa Tengah.
Namun di balik usia bangunan yang perkiraannya berdiri sejak 1413, tersimpan kisah yang jauh lebih besar. Yakni peran kawasan Sekayu sebagai pusat logistik dan pertahanan pada masa peralihan Kerajaan Majapahit menuju Kesultanan Demak.
Tak banyak yang mengetahui bahwa lokasi masjid yang kini berada di tengah permukiman padat, tepat di belakang kawasan pusat perbelanjaan modern, dulunya merupakan wilayah pesisir laut yang dekat dengan jalur perdagangan internasional.
Kawasan tersebut menjadi titik strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Mas yang sejak masa Majapahit sudah ramai pedagang dari Portugis, Belanda, Inggris, India, hingga Tiongkok datangi.
BACA JUGA: Beda Rakaat Bukan Penghalang, Muhammadiyah dan NU Tarawih Bareng di Masjid Sekayu Semarang
Dewan Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Achmad Arief, menjelaskan bahwa kondisi geopolitik saat itu mendorong para wali untuk memikirkan sistem pertahanan yang kuat di sekitar pelabuhan.
“Para wali melihat banyak bangsa asing berebut pengaruh di pelabuhan. Maka perlu ada pertahanan dekat jalur perdagangan. Sekayu ini kemudian di jadikan salah satu titik pengawasan,” ujarnya pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Pusat Pengumpulan Kayu Pembangunan Masjid Demak
Nama “Sekayu” sendiri teryakini berasal dari fungsi kawasan ini sebagai sentral pengumpulan kayu dari berbagai daerah di Jawa. Kayu-kayu tersebut dikirim dari wilayah bagian tengah seperti Ambarawa, Ungaran.
Bagian barat dari Kendal-Weleri, bagian timur dari Purwodadi, Grobogan dan Kedungjati. Kemudian pasokan tambahan dari arah selatan yakni sekitar Solo dan Wonogiri.
Kayu kemudian dirakit menggunakan getek bambu melalui jalur sungai menuju desa Morodemak di Kabupaten Demak untuk membangun pusat kekuasaan Islam pertama di Jawa, yakni Kesultanan Demak.
“Kayu dikumpulkan di sini lalu para santri bawa lewat sungai sampai ke Morodemak. Dari situ diangkut untuk pembangunan kerajaan Islam Demak,” jelasnya.
Kisah ini memperlihatkan hubungan historis yang sangat erat antara Masjid Sekayu dengan Masjid Agung Demak. Yakni bukan hanya secara usia, tetapi juga secara peran dalam sejarah Islam Nusantara.
Catatan sejarah menyebut Masjid Taqwa Sekayu berdiri pada tahun 1413. Lebih awal daripada Masjid Agung Demak yang pembangunannya konon sekitar 1420.
Masjid yang dahulu bernama Masjid Pekayuan itu awalnya berbahan kayu dengan atap rumbia, tiang bambu, dan lantai tanah. Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, sejumlah elemen asli masih di pertahankan hingga kini.
Beberapa peninggalan bersejarah yang masih ada. Antara lain mustaka (puncak atap), soko guru atau empat tiang utama yang berasal dari pendopo Majapahit, pintu kayu tebal kuno, serta sumur tua yang masih digunakan jamaah.
Murid Sunan Gunung Jati dan Jejak Dakwah Awal Islam
Tokoh penting di balik berdirinya masjid ini adalah Kiai Kamal, seorang murid Sunan Gunung Jati dari Cirebon yang mendapat tugas menyebarkan Islam di wilayah Sekayu. Awalnya tempat ini bukan masjid permanen, melainkan lokasi singgah sekaligus pusat aktivitas dakwah.
Seiring berkembangnya peradaban Islam dan berdirinya Kesultanan Demak di bawah Raden Patah, kawasan Sekayu semakin strategis sebagai basis pertahanan untuk mengawasi lalu lintas bangsa asing di pesisir utara Jawa.
Menurut Achmad Arief, fungsi pertahanan ini menjadi salah satu alasan mengapa di area masjid terdapat simbol-simbol perjuangan.
“Ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga pernah menjadi pusat perjuangan dan pertahanan untuk mengawasi kedatangan bangsa asing,” katanya.
Selain nilai sejarah, Masjid Sekayu juga terkenal memiliki aura spiritual kuat. Tiang utama yang berasal dari pendopo Majapahit bahkan sempat buka untuk umum. Namun kemudian tutup kembali karena banyak peziarah dari luar kota datang untuk berzikir hingga larut malam.
BACA JUGA: Puluhan Remaja di Blora Ikuti LDK Masjid Jami Moetiah, Terhadiri Bupati hingga TNI-Polri
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masjid ini bukan hanya situs sejarah, tetapi juga bagian dari tradisi spiritual masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun dari ulama ke ulama.
Dengan sejarah panjang sejak era Majapahit hingga Demak, Masjid Taqwa Sekayu bukan sekadar bangunan ibadah kuno.
Ia menjadi saksi transformasi peradaban Nusantara, dari pusat perdagangan internasional, basis pertahanan wali, hingga pusat dakwah Islam yang masih hidup sampai hari ini. (*)
Editor: Farah Nazila





