SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana Ramadan di Masjid Sekayu Semarang menghadirkan potret nyata toleransi antarormas Islam terbesar di Indonesia. Warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) melaksanakan salat tarawih berdampingan dalam satu ruang Masjid Sekayu dengan penuh kekhusyukan, meski memiliki perbedaan jumlah rakaat.
Tradisi kebersamaan ini bukan hal baru. Praktik toleransi tersebut telah berlangsung sejak tahun 2005. Meski sempat terjadi perbedaan pandangan di kalangan sesepuh maupun ulama setempat, masyarakat tetap menjaga keharmonisan dengan menjalankan ibadah tarawih bersama, hanya dengan perbedaan tempo waktu pelaksanaan.
Wakil Takmir Masjid Sekayu, Syaiful Arif, menjelaskan secara teknis pelaksanaan salat tarawih antara Muhammadiyah dan NU yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa kendala. Ia menyebut, secara umum masjid yang melaksanakan tarawih 20 rakaat hanya menggunakan satu imam dari awal hingga akhir.
BACA JUGA: Mengenang Perjalanan Nh Dini dari Rumah Masa Kecil di Kampung Sekayu Semarang
“Kalau di masjid-masjid yang memakai 20 rakaat itu hanya memakai 1 imam dari mulai rakaat pertama tarawih sampai rakaat 20 terus istirahat habis itu dilanjutkan kultum dan terakhir sholat witir,” ujarnya seusai melaksanakan sholat tarawih, Kamis, 19 Februari 2026.
Namun di Masjid Sekayu, karena terdapat dua ormas dengan tradisi ibadah berbeda, maka berlaku sistem dua imam dalam satu rangkaian ibadah.
“Tapi kalau di Sekayu ini karena ada 2 ormas, jadi untuk yang sholat mulai dari rakaat 1 sampai 8 istirahat, berlanjut kultum. Nah, yang selesai kultum dilanjutkan witir yang sholat 8 rakaat; setelah witir selesai baru dilanjutkan lagi yang ingin melanjutkan sholat tarawih yang 20 rakaat dengan imam berbeda,” lanjutnya.
Kegiatan Setelah Tarawih di Masjid Sekayu Semarang
Setelah rangkaian tarawih selesai, jamaah juga melanjutkan kegiatan tadarus Al-Qur’an bersama. Meski terpisah antara laki-laki dan perempuan, kegiatan tersebut tetap berlangsung di area masjid dengan target khatam dua kali selama Ramadan.





