Ia menilai tantangan saat ini adalah bagaimana mengemas kembali kebun binatang sebagai destinasi yang relevan dengan kebutuhan wisatawan modern.
Menurutnya, pengelolaan taman satwa idealnya berfokus pada tiga aspek utama, yaitu konservasi, edukasi, dan rekreasi.
“Satwa harus di rawat dengan baik, diberi pakan dan perawatan medis yang layak, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Setelah itu, unsur rekreasi akan tumbuh secara alami dan mendorong peningkatan kunjungan,” kata dia.
Ia juga mengakui adanya penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa waktu terakhir. Namun, hal tersebut menurutnya terjadi hampir di semua destinasi wisata karena setiap daerah kini berlomba menghadirkan objek wisata baru. Karena itu, inovasi dan pembaruan menjadi kunci agar Semarang Zoo tetap relevan.
Terkait penyertaan modal Rp 5 miliar pada 2026, Samsul berharap dukungan tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari pihak swasta dan media melalui promosi yang konstruktif.
Ia menekankan pentingnya evaluasi target dividen agar tidak membebani pengelola dan justru menghambat perbaikan kualitas layanan.
“Angka kunjungan di sini. Jujur memang ada penurunan dari tahun yang lalu. Tapi harapan kami ini bukan menjadi suatu patokan, namun memotivasi kita agar optimis lebih baik,” sebutnya. (*)
Elly Amaliyah





