Jateng

Dihimpit Harga Plastik dan Kedelai, Produsen Tempe Tak Berani Naikkan Harga

×

Dihimpit Harga Plastik dan Kedelai, Produsen Tempe Tak Berani Naikkan Harga

Sebarkan artikel ini
tempe semarang
Produsen tempe di Kota Semarang yang terdampak kenaikan harga plastik dan kedelai. Jumat, 10 April 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kenaikan harga bahan baku mulai dari kedelai hingga plastik memberi tekanan besar bagi produsen tempe di Kota Semarang. Adib Mukharam (21), salah satu produsen tempe di Jalan Griya Prasetya Utara, Kecamatan Gayamsari, menyebut lonjakan harga plastik menjadi dampak paling signifikan yang dirasakan dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Adib, kenaikan harga plastik terjadi tajam dalam waktu singkat, bahkan mencapai tiga hingga empat kali lipat. Kondisi ini terpicu oleh naiknya harga bahan baku plastik yang berkaitan dengan minyak bumi.

“Kalau dampaknya, yang paling terasa itu dari plastik. Harganya naik hampir 3 sampai 4 kali lipat,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di lapaknya pada Jumat, 10 April 2026 sore.

Ia menjelaskan, sebelumnya harga plastik per rol berada di kisaran Rp550 ribu. Namun kini melonjak hingga Rp1,75 juta per rol. Kenaikan drastis ini membuat biaya harga pokok produksi (HPP) ikut terdongkrak signifikan.

“Yang bikin kaget itu plastik, karena sebelumnya enggak pernah terprediksi naik setinggi ini,” katanya.

BACA JUGA: Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tempe di Blora Naikkan Harga hingga Kurangi Produksi

Sementara itu, harga kedelai juga mengalami kenaikan, meski tidak setinggi plastik. Adib menyebut, harga kedelai naik secara bertahap seiring penguatan kurs dolar terhadap rupiah.

“Awal tahun masih di Rp8.000 sampai Rp8.500 per kilo, sekarang sudah sekitar Rp10.250 per kilo. Naiknya bertahap,” jelasnya.

Meski demikian, Adib menilai kenaikan kedelai masih lebih bisa diantisipasi dibanding lonjakan harga plastik yang datang tiba-tiba.

Di tengah kenaikan biaya produksi, Adib mengaku tidak menaikkan harga jual tempe. Ia memilih strategi mengurangi gramasi produk agar tetap bisa diterima pasar.

“Kalau harga mungkin enggak terlalu naik, paling kita kurangi gramasi. Dari biasanya 450 gram jadi 400 gram untuk harga Rp5.000,” ungkapnya.

Langkah ini ia ambil karena mayoritas pendistribusian tempe melalui pedagang retail dan pasar tradisional. Kenaikan harga ternilai berisiko menurunkan daya beli konsumen.

“Kalau dinaikkan harganya, nanti penjual juga susah jual. Jadi kita akali di takaran,” katanya.

Terkait potensi untuk mengganti plastik ke daun pisang, Adib mengatakan bahwa hal itu tidak memungkinkan karena menambah biaya produksi.

“Enggak mungkin sih, karena kalau packing pakai daun itu berarti nambah orang produksinya. Jadi mau enggak mau tetap pakai plastik. Tapi ya disiasati mengurangi gramasi atau menaikkan harga itu,” jelasnya.

Adib menambahkan, meski biaya produksi meningkat, volume produksi tempe relatif stabil di kisaran 650 kilogram per hari. Hal ini terdukung oleh permintaan tetap dari pelanggan tetap serta suplai ke dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Produksi masih cenderung stabil, karena demand juga masih ada. Ada yang berkurang, tapi ada juga pelanggan baru,” ujarnya.

BACA JUGA: Awas Barang Palsu, Ini Cara Cek Keaslian Meterai Tempel untuk Dokumen Pendaftaran CPNS 2024

Namun demikian, ia tetap mengkhawatirkan potensi kenaikan biaya lain, seperti bahan bakar dan distribusi, yang dapat semakin membebani usaha.

Sebagai pelaku usaha, Adib berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok, terutama yang berkaitan langsung dengan produksi pangan.

“Harapannya pemerintah bisa menjaga harga bahan baku seperti kedelai dan plastik, supaya masyarakat tetap bisa beli dan ekonomi tetap berjalan,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp