SEMARANG, beritajateng.tv – Ambisi Kota Semarang menjadi destinasi wisata unggulan dinilai belum diimbangi dengan penguatan kelembagaan.
Di tengah maraknya agenda nasional hingga internasional yang ada di ibu kota Jawa Tengah, pembentukan Badan Pariwisata masih sebatas wacana karena terkendala regulasi.
Kondisi tersebut memunculkan sorotan, sebab selama ini pengembangan sektor pariwisata masih bertumpu pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Padahal, pemerintah sendiri mengakui kapasitas organisasi perangkat daerah itu memiliki keterbatasan untuk mengelola seluruh potensi wisata yang terus berkembang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan pembentukan Badan Pariwisata sebenarnya pernah ada pembahasan. Namun, rencana itu terhenti setelah adanya perubahan aturan sehingga pemerintah harus menunggu kepastian regulasi turunan berupa Peraturan Pemerintah (PP).
“Kalau PP-nya sudah mengizinkan, tentu bisa kita bentuk. Dulu sebenarnya hampir jadi. Tetapi kemudian ada perubahan undang-undang sehingga harus menyesuaikan lagi,” kata Agustina.
Menurut Agustina, keberadaan Badan Pariwisata atau komite pariwisata bukan lagi sekadar pelengkap. Melainkan kebutuhan mendesak agar pengembangan sektor wisata tidak hanya bergantung pada pemerintah daerah.
Ia bahkan mengakui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh potensi wisata Kota Semarang.
“Menurut saya penting. Selama ini Dinas Budpar menangani banyak hal, tetapi tangannya tidak sampai ke semua potensi yang ada,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah menyadari perlunya lembaga independen yang fokus membangun promosi, menyusun kalender event, hingga menggandeng pelaku industri wisata secara berkelanjutan.
Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir Kota Semarang semakin sering dipercaya menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional.
“Semarang sekarang menjadi destinasi yang banyak terpilih untuk kegiatan nasional maupun internasional. Karena itu memang perlu ada lembaga yang membantu pengelolaannya,” jelasnya.
Di sisi lain, Agustina mengingatkan bahwa peningkatan jumlah kunjungan wisatawan harus sejalan dengan perbaikan kualitas destinasi. Ia menyoroti kondisi kawasan Kota Lama yang mulai mengalami kerusakan pada sejumlah ruas jalannya.





