DPD LDII Gelar Sarasehan Pererat Silaturahmi Antar Elemen Anak Bangsa 

Sarasehan DPD LDII

Semarang, 20/9 (BeritaJateng.tv) – DPD LDII Kabupaten Kudus menggelar Sarasehan dan Silaturahmi dengan tema LDII dan Paradigma Baru untuk Mewujudkan Indonesia Maju.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Serba Guna Syaifudin Zuhri Kompleks Ponpes Baitul Qudus, desa Panjang, Bae pada hari Ahad, 18 September 2022.

Dalam acara tersebut dihadiri 80 peserta dari unsur Tokoh masyarakat, Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan, FKUB dan Kepala Bakesbangpol Kabupaten Kudus, serta Mahasiswa/wi IAIN Kudus.

Narasumber dalam kegiatan tersebut, yang pertama Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Tengah, Prof.Dr.H.Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. Prof Singgih menyampaikan materi Super Smart Society dan Kesiapan LDII.

Dilanjutkan paparan dari peneliti aliran keagamaan IAIN Kudus, Dr. Moh Rosyid, SAg, Mpd yang mengangkat isu paradigma baru LDII.

Terakhir penyampaian materi dari Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Provinsi Jateng, HM Afif Mundzier MSi, yang menjelaskan tentang keniscayaan keragaman dalam kehidupan berbangsa bernegara.

Ketua DPD LDII Kabupaten Kudus, Muh As’ad, SE dalam sambutannya mengatakan, tujuan dari kegiatan tersebut adalah mempererat dan memperkuat tali silaturahmi di antara elemen anak bangsa.

“Agar tercipta kerukunan antar umat beragama dan penganut kepercayaan, serta  budaya Silaturahmi dan hilangnya konflik kekerasan yang mengatasnamakan agama, maka digelar sarasehan ini. Hal ini juga untuk mewujudkan visi Kabupaten kudus yang modern dan religius, ” katanya.

Dalam kesempatan itu pemateri HM Afif Mundzir Msi juga menegaskan, sudah saatnya narasi narasi negatif tentang LDII saat ini dihentikan, karena selain tidak berdasarkan fakta juga sudah tidak relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Senada dengan hal itu, Dr Moh Rosyid yang sudah lama meneliti tentang LDII, juga tidak menemukan sesuatu hal menyimpang dari norma dan tatanan masyarakat, hanya ketidaktahuan dan persepsi salah yang perlu untuk diluruskan bersama, sebagai suatu upaya konkrit semua elemen dalam menerima perbedaan keyakinan dan pemahaman Agama sebagai sebuah sunatullah. (Ak/El)

Leave a Reply